saya disini hanya ingin memperkenalkan diri saja dan bisa membuat orang tertarik untuk melihat blog saya ini.. nama saya RESTU OSSA PUTRA, saya lahir di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. anda dapat berinteraksi dengan saya melalui media internet search RESTU OSSA PUTRA saya selalu terhubung dengan anda semua, SALAM & TRIMA KASIH
Kamis, 27 Juni 2013
Senin, 10 Juni 2013
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
BAB I
PENDAHULUAN
Sejak berabad-abad yang lalu perhatian terhadap seluk beluk kehidupan anak sudah diperlihatkan, sedikitnya dari sudut perkembangannya agar bisa mempengaruhi kehidupan anak ke arah kesejahteraan yang diharapkan. Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang baik yang bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung atau menimbulkan masalah pada orang lain, pada keluarga atau masyarakatnya.
Seorang anak bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, karena ia mempunyai sifat berlainan dari orang dewasa. Ia harus tumbuh dan berkembang sampai dewasa agar dapat berguna bagi masyarakat. Walaupun pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, seorang anak dalam banyak hal bergantung kepada orang dewasa, misalnya mengenai makan, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dan sebagainya. Oleh karena itu semua orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus mengerti persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang, misalnya keperluan dan lingkungan anak pada waktu tertentu agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.
Sebuah organ yang tumbuh berarti organ itu akan menjadi besar, karena sel-sel dan jaringan di antara sel bertambah banyak. Selama pembiakan, sel berkembang menjadi sebuah alat (organ) dengan fungsi tertentu. Pada permulaannya, organ ini masih sederhana dan fungsinya belum sempurna.Lambat laun organ tersebut dengan fungsinya akan tumbuh dan berkembang menjadi organ yang matang, seperti yang diperlukan orang dewasa. Dengan demikian pertumbuhan, perkembangan dan kematangan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai gejala pertumbuhan dan perkembangan anak, perkembangan kognitif, faktor hereditas dan lingkungan, cara membina perkembangan anak, dan penyesuaian kurikulum.
BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
A. GEJALA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Dalam kehidupan anak terdapat dua proses yang beroperasi secara kontinu yaitupertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdependen, saling bergantung satu sama lainnya dan tidak bisa dipisahkan.
Pada diri seorang anak gejala pertumbuhan dan perkembangan selalu menyatu dalam proses pendidikan atau proses belajar yang dialami anak. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat kemampuan, keinginan serta kejenuhan yang menjadi tingkatan bagi kegiatan belajar dan berpengaruh pada hasil belajar.
1. Gejala Pertumbuhan
Pertumbuhan ialah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam passage (peredaran waktu) tertentu.
Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambah panjangnya badan anak, tubuh bertambah berat, tulang-tulang jadi lebih besar, panjang, berat, kuat, perubahan dalam system persyarafan dan perubahan-perubahan pada struktur jasmaniah lainnya. Dengan begitu, pertumbuhan bisa disebutkan pula sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.[1]
Dalam pertumbuhannya, macam-macam bagian tubuh itu mempunyai perbedaan tempo kecepatan. Umpama saja, pertumbuhan alat-alat kelamin berlangsung paling lambat pada masa kanak-kanak, tapi mengalami mengalami percepatan pada masa pubertas.
Sebaliknya, pertumbuhan susunan syaraf pusat berlangsung paling cepat pada masa kanak-kanak, kemudian menjadi menjadi lambat pada akhir masa kanak-kanak dan relative berhenti pada masa pubertas.
Perbedaan kecepatan tumbuh dari masing-masing bagian tubuh mengakibatkan adanya perbedaan pula dalam keseluruhan proporsi tubuh dan juga menimbulkan perbedaan dalam fungsinya. Misalnya, kepala seorang bayi relative lebih besar sedangkan kaki dan tangannya relative pendek jika dibandingkan dengan orang dewasa. Pada orang dewasa, perbandingan badan dan anggota badan hampir sama panjangnya. Selain itu, pertumbuhan dari penglihatan atau mata lebih cepat daripada pertumbuhan otot-otot tangan dan kaki.[2]
Gejala pertumbuhan anak manusia telah banyak dikaji sebagai landasan teoritis para ahli untuk menerapkan sistem pendidikan dan pembelajaran bagi seorang anak. Dari beberapa kajian tersebut disimpulkan bahwa hukum yang mengatur pertumbuhan adalah sebagai berikut :
a. Pertumbuhan adalah kualitatif dan kuantitatif
b. Pertumbuhan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan teratur
c. Tempo pertumbuhan anak adalah tidak sama
d. Taraf perkembangan berbagai aspek pertumbuhan adalah berbeda-beda
e. Kecepatan serta pola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi-kondisi di dalam dan di luar badan
f. Masing-masing individu tumbuh menurut caranya sendiri yang unik
g. Pertumbuhan adalah kompleks, dan semua aspek-aspeknya saling berhubungan[3]
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organis ini, yaitu :
a. Faktor-faktor sebelum lahir
Misalnya kekurangan nutrisia pada Ibu dan janin, janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan, terkena infeksi oleh bakteri syphilis, diabetes mellitus dan lain-lain.
b. Faktor ketika lahir
Misalnya intracranial haemorrahage atau pendarahan pada bagian kepala bayi, disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim Ibu sewaktu ia dilahirkan.
c. Faktor sesudah lahir
Misalnya kepala bagian dalam terluka karena bayi jatuh, kepala terpukul, kekurangan nutrisia atau zat makanan dan gizi.
d. Faktor psikologis
Misalnya bayi ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, anak-anak dititipkan dalam suatu institusionalia (rumah sakit, rumah yatim piatu, dan lain-lain), sehingga mereka kurang sekali mendapatkan perawatan jasmaniah dan cinta kasih. Anak-anak tersebut mengalami innanitie psikis (kehampaan psikis) sehingga mengakibatkan recardasiatau kelambatan pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah. Selain itu hambatan fungsi rohaniah terutama sekali pada perkembangan intelegensi dan emosi.[4]
2. Gejala Perkembangan
Perkembangan ialah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam passage waktu tertentu menuju kedewasaan.
Setiap gejala perkembangan anak merupakan produk dari kerjasama dan pengaruh timbal balik antara potensialitas hereditas dengan factor-faktor lingkungan.[5]
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, yaitu :
· Faktor herediter (bawaan sejak lahir)
· Faktor lingkungan yang menguntungkan atau yang merugikan
· Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis
· Aktivitas anak sebagai subjek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui serta usaha membangun diri sendiri.
Perkembangan tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan dimana keduanya saling mempengaruhi. Kematangan fungsi jasmaniah sangat besar pengaruhnya pada perubahan fungsi kejiwaan.
Sebagaimana pertumbuhan, maka perkembangan juga memiliki hukum-hukum perkembangan, diantaranya yaitu :
¨ Perkembangan adalah kualitatif
¨ Perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil belajar
¨ Usia ikut mempengaruhi perkembangan
¨ Masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda
¨ Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan
¨ Perkembangan yang lambat dapat dipercepat.
¨ Perkembangan meliputi individuasi dan integrasi.[6]
Gejala pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi pertimbangan bagi pendidik untuk memberikan bimbingan agar perkembangan anak menuju arah yang baik dan benar.
Adapun syarat-syarat utama dalam melakukan bimbingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan, diantaranya :
§ Pembinaan dilakukan dengan tanggung jawab, yakni dilakukan oleh orang tua kemudian dilakukan guru, baru diserahkan pada formal masyarakat yang ada disekelilingnya. Pembinaan harus didasarkan pada sifat dasar anak dengan memahami tata cara pendidikan dan pembinaan.
§ Pembinaan harus dilengkapi dengan sarana dan fasilitas yang memadai .
§ Pembinaan harus memiliki ketentuan. Hal ini perlu untuk menata adanya sistematika materi yang akan dipelajari, dikuasai, dan dimiliki oleh anak.
§ Pembinaan harus menjadi perlindungan terhadap jiwa anak.
§ Pembinaan harus mampu menjadi satu organisasi yang integrated antara Pembina, yang dibina, penanggung jawab serta lingkungan pembinaan.[7]
B. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Kognisi adalah pengertian luas mengenai berfikir dan mengamati. Kognisi membuat setiap orang mengatur dunia keliling dengan caranya sendiri-sendiri. Seorang Eskimo akan mengatur dunianya dengan cara yang lain daripada orang Indonesia atau orang Jepang. Kognisi mengandung proses berfikir dan proses mengamati yang menghasilkan, memperoleh, menyimpan dan memproduksi pengetahuan.
Psikolog Swiss, Piaget membagi perkembangan kognisi menjadi beberapa stadium, artinya fungsi kognitif pada umur yang berlainan dapat jelas dibedakan satu sama lain. Jadi, stadium yang berurutan menunjukkan kemungkinan kognitif baru yang sebelumnya belum ada.
1. Stadium Sensori-Motorik (0-2 tahun)
Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama stadium sensori motorik ini, intelegensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan konkrit bukan tindakan imaginer atau hanya dibayangkan saja. Selain itu, pengalaman kognitif anak didasarkan pada perlakuan panca indera. Perkembangan kognitif tampak bila anak memiliki banyak pengalaman interaksi dengan lingkungannya.[8]
Tahapan kemampuan pada stadium ini yang dapat dideteksi adalah kemampuan mengenali dan mengingat. Maka disarankan pada orangtua, pada stadium ini lebih banyak memberi pengalaman tambahan pada anak, pengulangan pengalaman dengan mengingatkan anak.
2. Stadium Pra-Operasional (2-7 tahun)
Cara berfikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain.[9]
Beberapa kecakapan baru yang penting adalah kemajuan yang sungguh pesat dalam pengumpulan kosa-kata. Oleh karena itu, disarankan agar orangtua lebih banyak berinteraksi dengan kata-kata yang semakin kaya. Di samping itu, pada stadium ini, anak memiliki kemampuan meniru dan mampu mendayagunakan imajinasinya.
3. Stadium Operasional Konkrit (7-11 tahun)
Pada stadium ini pengalaman kognitif anak berangsur dari dunia fantasi ke dunia nyata, maka logis tidaknya satu keadaan telah menjadi pertimbangan tindakannya.
Pada stadium ini disarankan untuk membimbing kreativitas, mengembangkan keterampilan dan mendorong keberanian yang positif pada anak.
4. Stadium Operasional Formal (mulai 11 tahun)
Pada stadium ini pengalaman kognitif anak telah kaya dengan pengalaman baik bersifat kongkrit maupun abstrak, memberanikan diri memilah mana yang logis dan mana yang imajinatif.
Perkembangan stadium ini harus lebih banyak mendapat perhatian tentang kendali tindakan anak. Karena stadium ini beriringan dengan fase pubertas.[10]
Psikologi kognitif lebih mengarahkan pada adanya keterpaduan yang mampu memberikan jembatan kepada perkembangan kognitif yaitu adanya kerjasama antara orangtua, guru dan lingkungan.
Dan sebagai seorang guru tentulah lebih dahulu perlu diketahui siapa si terdidik itu. Karena hal ini akan lebih bermanfaat, lebih efektif, efisien, terarah dan hasilnya lebih memuaskan.
Hal ini dikarenakan, sebenarnya anak sejak lahir telah membawa kemampuan-kemampuannya sendiri, yang sedikit banyak berbeda dengan yang satu dengan lainnya.[11]
C. FAKTOR HEREDITAS DAN LINGKUNGAN
Pertumbuhan anak sebelum lahir itu terutama dideterminir oleh potensi hereditasnya.
Ketika terjadi fertilisasi dan tercipta manusia baru terjadi penggabungan antara kromosom dari pihak Ibu dan dari pihak ayah. Pada kromosom terdapat banyak sekali (±20.000) faktor keturunan (gen). Karena faktor keturunan ini, maka terdapat ciri-ciri khusus baik terlihat pada segi fisiknya, segi fisiologis maupun karakterologis. Ketika tercipta manusia baru, maka ia akan memperoleh factor-faktor yang diturunkan (genotip). Menurut para ahli, genotip ini jumlahnya lebih dari 70 triliun. Karena itulah tidak akan ada 2 manusia yang mempunyai genotip yang sama.[12]
Dengan demikian ketika terjadi konsepsi dan ketika dilahirkan merupakansuatu kerangka yang memberi kemungkinan-kemungkinan yang merupakan potensi-potensi yang bisa berkembang menjadi sesuatu ciri kepribadiannya.
Dalam pendekatan biologis terdapat satu aturan system yang memberikan pedoman bagiPsikologi Pendidikan dimana anak dalam kelahiran dan pertumbuhan telah diawali dari adanya garis keturunan yang tidak terpisah dengan orangtuanya.[13]
Namun, faktor keturunan saja tidak menentukan sesuatu tingkah laku melainkan masih bergantung pada lingkungan tempat berada. Sebaliknya, lingkungan saja tidak bisa distrukturkan sedemikian rupa sehingga diharapkan berkembang melebihi kerangka genotip yang sebenar-benarnya dimiliki.
Tujuan memperkembangkan anak adalah memunculkan sesuatu yang secara genotip adalah sebaik-baiknya untuk tujuan penyesuaian diri dan mempertahankan diri dalam lingkungan hidupnya, termasuk kemampuan untuk memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lingkungan dan mengadakan hubungan-sosial yang serasi.[14]
D. CARA MEMBINA PERKEMBANGAN ANAK
Cara yang paling baik dalam membina perkembangan anak membutuhkan adanya.
1. Pendidik
Pendidik harus bisa mengetahui kejiwaan anak didik atau periode perkembangan anak didik sehingga dapat memberlakukan anak sebagaimana mestinya.
2. Alat
Dalam pendidikan digunakan alat pendidikan, karena tanpa adanya alat ini, pendidikan tidak mungkin dijalankan.
3. Keteraturan
Pendidikan diberikan sedikit demi sedikit dan harus dilakukan secara kontinu serta rutin.
4. Kesabaran dan Ketekunan
5. Harus menyadari adanya individual differences
Dalam pendidikan pasti terdapat perbedaan individu, baik fisik maupun psikis sehingga guru harus bisa memberikan materi pelajaran yang dapat ditangkap oleh berbagai macam tingkat intelegensi.
6. Memberikan motivasi pada anak didik. Misalnya, membimbing anak didik dalam mengekspresikan diri dan mengusahakan untuk menghilangkan sumber-sumber ketegangan dan ketakutan di dalam kelas.[15]
E. PENYESUAIAN KURIKULUM
Penyesuaian ini bermaksud agar kurikulum tidak dilakukan secara kaku, kurikulum harus bersifat curriculum continues progress.
Hal ini merupakan suatu azas yang memungkinkan si anak didik secara kontinu mengikuti program pendidikan untuk mencapai perkembangan kepribadian secara optimal, sehingga anak yang cerdas tidak merasa dihambat oleh teman yang rendah kemampuannya. Dan anak yang rendah tidak dipaksa untuk menyesuaikan dengan teman yang tinggi kemampuannya.
Maka dari itu, sekolah paling tidak harus mempunyai :
- Program minimal yang harus dikuasai oleh anak didik
- Program tambahan bagi mereka yang mempunyai kemampuan lebih.[16]
BAB III
PENUTUP
Pertumbuhan ialah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam passage (peredaran waktu) tertentu. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organis yaitu faktor sebelum lahir, faktor ketika lahir, faktor setelah lahir dan faktor psikologis.
Perkembangan ialah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam passage waktu tertentu menuju kedewasaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, yaitu faktor herediter (bawaan sejak lahir), faktor lingkungan yang menguntungkan atau yang merugikan, kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis, dan aktivitas anak sebagai subjek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui serta usaha membangun diri sendiri.
Kognisi mengandung proses berfikir dan proses mengamati yang menghasilkan, memperoleh, menyimpan dan memproduksi pengetahuan. Swiss, Piaget membagi perkembangan kognisi menjadi beberapa stadium, yaitu stadium sensori-motorik (0-2 tahun), pra-operasional (2-7 tahun), operasional konkrit (7-11), operasional formalitas (mulai 11 tahun).
Penyesuaian kurikulum bermaksud agar kurikulum tidak dilakukan secara kaku, kurikulum harus bersifat curriculum continues progress. Hal ini merupakan suatu azas yang memungkinkan si anak didik secara kontinu mengikuti program pendidikan untuk mencapai perkembangan kepribadian secara optimal, sehingga anak yang cerdas tidak merasa dihambat oleh teman yang rendah kemampuannya. Dan anak yang rendah tidak dipaksa untuk menyesuaikan dengan teman yang tinggi kemampuannya.
DAFTAR PUSTAKA
D. Gunarsa, Singgih. Dasar dan Teori Perkembangan Anak,Jakarta : Gunung Mulia, 1990
Kartono, Kartini. Psikologi Anak. Bandung : Mandar Maju, 1995
Mardianto. Psikologi Pendidikan. Bandung : Citapustaka, 2009
Monks, F.J. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1996
Sujanto, Agus. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Aksara Baru, 1988
Tarmizi. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Utama, 2006
Senin, 03 Juni 2013
Cara Mandi Wajib Rasulullah SAW
Mandi adalah aktivitas yang selalu dibutuhkan oleh manusia. Mandi memberikan perasaan bersih dan percaya diri. Dalam tuntunan Rasulullah SAW, ada 2 jenis mandi, yaitu mandi yang diwajibkan dan mandi yang disunnahkan. Dalam posting ini akan dijelaskan mengenai mandi yang diwajibkan.
Mandi wajib dilakukan jika terjadi hal-hal di bawah ini:
- Keluarnya mani dengan syahwat. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa mandi diwajibkan hanya jika keluarnya mani secara memancar dan terasa nikmat ketika mani itu keluar. Jadi jika keluarnya karena kedinginan atau sakit, tidak ada kewajiban mandi. Tapi biar aman, tetap mandi saja
- Jika bangun tidur dan mendapati keluarnya mani. Ulama berpendapat bahwa selama kita bangun dan mendapati adanya mani, maka kita wajib mandi, walaupun kita tidak sadar atau lupa telah mimpi basah atau tidak
- Setelah bertemunya dua kemaluan walaupun tidak keluar mani.
- Setelah berhentinya darah haidth dan nifas.
- Ketika orang kafir masuk islam.
- Ketika seorang muslim meninggal dunia. Tentu saja yang memandikannya adalah yang orang yang masih hidup
Mayat muslim wajib dimandikan kecuali jika ia meninggal karena gugur di medan perang ketika berhadapan dengan orang kafir.
- Ketika bayi meninggal karena keguguran dan sudah memiliki ruh.
Cara-cara mandi wajib (atau disebut juga mandi junub atau janabah) yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
- Berniat mandi wajib dan membaca basmalah.
- Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak 3 kali
- Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri
- Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan tangan ke tanah atau dengan menggunakan sabun
- Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat
- Mengguyur air pada kepala sebanyak 3 kali hingga sampai ke pangkal rambut
- Mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri
- Menyela-nyela (menyilang-nyilang) rambut dengan jari
- Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan, lalu kiri.
Mudah kan?
Nah, untuk wanita, ada beberapa tambahan sebagai berikut:
- Menggunakan sabun dan pembersih lainnya beserta air
- Melepas kepang rambut agar air mengenai pangkal rambut
- Ketika mandi setelah masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah untuk menghilangkan sisa-sisanya.
- Ketika mandi setelah masa haidh, disunnahkan juga mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh
Tambahan lain mengenai mandi wajib yang sering ditanyakan:
- Jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.
- Setelah mandi wajib, diperbolehkan mengeringkan tubuh dengan kain atau handuk
- Berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah sunnah menurut mayoritas ulama.
Wallahu’alam bisshawab 
Cara Bertamu Rasulullah SAW
Saling berkunjung dan bertamu adalah hal yang biasa terjadi. Bertamu bisa dilakukan kepada siapa saja, baik kepada sanak famili, tetangga, rekan kerja, teman sebaya bahkan kepada orang yang belum kita kenal. Namun, banyak di antara kita yang melupakan atau belum mengetahui adab-adab dalam bertamu, dimana syari’at Islam yang lengkap telah memiliki tuntunan tersendiri dalam hal ini. Alangkah baiknya jika kita mencontoh Rasulullah SAW, sebagaimana teladannya dalam bertamu sebagai berikut:
- Mintalah izin untuk masuk rumah (bertamu) maksimal 3x. Jika kita ingin masuk ke rumah seseorang, maka mintalah izin paling banyak 3x. Jika setelah meminta izin 3x, masih juga tidak diperbolehkan masuk, maka kita harus undur diri (pulang).
- Ucapkan salam ketika meminta izin masuk. Terkadang kita bertamu dengan memanggil-manggil nama orang yang hendak kita temui bahkan terkadang menggunakan sebutan yang kurang sopan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ucapan salam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) adalah yang terbaik ketika meminta izin masuk.
- Ketuklah pintu rumah dengan cara yang baik dan tidak mengganggu. Ketuklah pintu rumah dengan cara tanpa berlebihan, baik dalam suara maupun cara mengetuknya. Dalam salah satu hadits, diceritakan bahwa di masa Rasulullah SAW, para sahabat mengetuk pintu dengan kuku jari tangan.
- Ambillah posisi berdiri dengan tidak menghadap pintu masuk. Sebaiknya posisi berdiri tamu tidak persis di depan pintu dengan menghadap ke ruangan. Sikap ini untuk menghormati pemilik rumah dalam mempersiapkan dirinya ketika menerima tamu. Ambillah posisi menghadap ke samping sambil mengucap salam. Dengan posisi tersebut, ketika pintu terbuka, apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik rumah.
- Jangan mengintip ke dalam rumah. Terkadang kita berusaha mengintip ke dalam rumah ketika penasaran apa ada orang di dalam rumah. Padahal Rasulullah SAW sangat membenci sikap seperti ini karena tidak menghormati pemilik rumah.
- Pulanglah jika kita disuruh pulang. Jika kita diminta pulang oleh pemilik rumah, maka kita harus segera mematuhinya tanpa merasa tersinggung karena hal tersebut adalah hak si pemilik rumah.
- Jawablah dengan nama jelas jika pemilik rumah bertanya “Siapa?”. Ketika pemilik rumah menanyakan nama kita, jawablah dengan nama kita secara jelas, jangan hanya “saya” atau “aku” saja.
Semoga hal-hal yang nampak sederhana, namun penting di atas dapat kita teladani dengan baik. Amin.
Cara Bicara Rasulullah SAW
Seiring dengan sifat dan sikap beliau yang agung, tutur kata Rasulullah SAW pun sangat mengagumkan. Berikut adalah beberapa hal tentang tutur kata beliau berdasarkan keterangan para sahabatnya:
- Beliau berbicara dengan nada perlahan;
- Beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan terang sehingga mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya;
- Dalam berkomunikasi, beliau memperhatikan tingkat intelektualitas dan pemahaman lawan bicaranya;
- Tutur kata beliau sangat teratur, setiap untaian kata tersusun rapi;
- Beliau sudi mengulang perkataannya agar dapat dipahami.
Cara Duduk Rasulullah SAW
Duduk terlihat sebagai masalah sepele, namun tidak bagi orang yang benar2 ingin mencontoh Rasulullah SAW dalam segala aktivitasnya 
Berikut ini adalah beberapa cara duduk yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW:
| Duduk bersila: Duduk qurfasha: Duduk bertinggung: Duduk iftirasy: Duduk tawarruk: |
Berikut ini adalah beberapa cara duduk yang dilarang Rasulullah SAW:
- Duduk Qurfasha ketika mendengarkan khutbah Jum’at.
- Duduk berselonjor atau bertelekan tangan ke belakang ketika mendengarkan khutbah Jum’at.
- Duduk bertelekan dengan sebelah tangan.
- Duduk bersandar miring ke arah sebelah sisi badan ketika sedang makan. Duduk ini adalah duduk seperti duduknya orang-orang yang sombong. Lagipula duduk ini ketika makan akan menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dengan baik.
- Duduk di kuburan muslim. Namun tentang hal ini, ada pula yang menyatakan bahwa duduk yang dimaksud adalah duduk ketika buang hajat di kuburan muslim (lihat referensi di bawah)
Wallahu’alam bisshawab 
Langganan:
Postingan (Atom)
