Kamis, 26 September 2013

Jenis Hijauan Pakan pada Peternakan



Fakultas Peternakan, Universitas Jendral Soedirman
Jln. kenanga 604, Purwokerto 53111, Indonesia
Email : restuossaputra@gmail.com
RINGKASAN
Cigobang adalah desa di wilayah Cirebon Timur pada ketinggian 20 dpl dengan iklim relatif kering. Berada di daerah aliran sungai Cisanggarung, yaitu sungai yang membatasi Jawa Barat dan jawa Tengah. Sebagian besar penduduk mempunyai usaha sampingan beternak kambing.
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hijauan pakan kambing dan pemanfaatannya.
Penelitian dilaksanakan bulan Februari – April 2011 di desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, kabupaten Cirebon. Ada 56 peternak dengan 315 ekor ternak kambing. Metode yang digunakan adalah pengamatan dan pencatatan langsung di kandang untuk menentukan komposisi hijauan pakan, penimbangan ternak, jenis hijauan pakan dan dokumentasi. Jenis hijauan yang ada dibuat herbarium dan selanjutnya digunakan untuk identifikasi. Data dan informasi yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
Ada 3 jenis kambing yang ada di desa Cigobang yaitu Peranakan Ettawah (PE), Jawa Randu dan Benggala. Berdasarkan hasil pengamatan dan pencatatan, macam  hijauan pakan rumputan 1 spesies, kacangan 14 spesies dan ramban 11 spesies. Rumputan yang diberikan adalah Imperata cylindrica Div. sebanyak 0,16%, kacangan terutama Leucaena leucocephala LAMK. (21,98%), Gliricidia sepium Jacq. Kunth ex Walp. (16,45%), Sesbania grandiflora L. PERS. (9,82%)  dan Pterocarpus indicus WILLD. (8,92%). Ramban (selain famili Gramineae dan Leguminosae) yang banyak diberikan adalah Artocarpus heterophyllus (3,49%).
Ada 12 spesies rumputan yang potensial dimanfaatkan sebagai sumber hijauan pakan.
Hampir seluruh hijauan pakan yang diberikan pada ternak berupa tumbuhan berdaun lebar, terutama famili leguminosae.

Kata kunci : rumputan, kacangan, ramban, komposisi hijauan pakan, kambing

PENDAHULUAN
Sub sektor peternakan mempunyai peran besar dalam kegiatan perekonomian pedesaan, dengan demikian perencanaan pembangunan sistem agribisnis peternakan harus dimulai dari kejelasan indentitas dan potensi lokal yang akan dikembangkan. Pengembangan usaha ternak ruminansia perlu memperhatikan tiga komponen utama yang saling terkait, yaitu tersedianya lahan, ternak, dan pakan (Soedarjat, 2000).
Kabupaten Cirebon adalah suatu wilayah yang terletak di Jawa Barat yaitu berada di sekitar pesisir Laut Jawa. Bagian utara merupakan dataran rendah dan bagian barat daya berupa pegunungan yaitu lereng Gunung Ciremai. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sunda dan Jawa. Wilayah ini beriklim tropis dengan cenderung tidak fluktuatif dan dipengaruhi oleh angin kumbang yang bertiup relatif kencang, terkadang berputar dan bersifat kering. Tipologi kehidupan masyarakat Cirebon dilihat dari sosial ekonominya yaitu bertani dan beternak. Kambing merupakan ternak ruminansia terbanyak kedua setelah domba di Kabupaten Cirebon. Populasi ternak kambing di Kabupaten Cirebon sebanyak 4.355 ekor (Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan Cirebon, 2009).
Dalam manajemen ternak, pakan merupakan kebutuhan yang paling tinggi yaitu 60-70 % dari seluruh biaya produksi. Mengingat tingginya biaya tersebut maka perlu adanya perhatian dalam penyediaan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tidak terkecuali bagi ternak ruminansia, dimana pakan yang diperlukan berupa hijauan makanan ternak. Kebutuhan pokok konsumsi hijauan makanan ternak setiap harinya kurang lebih 10 % dari bobot badan ternak. Hijauan makanan ternak merupakan salah satu bahan makanan ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan kelangsungan populasi ternak kambing. Oleh sebab itu, hijauan makanan ternak sebagai salah satu bahan  makanan merupakan dasar utama untuk mendukung peternakan kambing di daerah Cirebon yang setiap harinya membutuhkan cukup banyak hijauan pakan ternak. Kebutuhan akan hijauan pakan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak kambing yang dimiliki.
Cigobang merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Cirebon Timur dengan luas wilayah 488,795 Ha dengan jumlah penduduk 4644 jiwa. Walaupun iklim di wilayah ini panas dan tanahnya kering, akan tetapi tidak mempengaruhi ketersediaan hijauan pakan ternak. Desa ini terletak di Kecamatan Pasaleman dan diantara Desa di Kecamatan Pasaleman, Cigobang merupakan desa yang paling banyak populasi ternak kambingnya.
Sebanyak 5% dari total kepala keluarga di Desa Cigobang mempunyai usaha sampingan sebagai peternak kambing. Seluruh peternak memberikan pakan pada ternaknya hanya hijauan pakan saja tanpa ada penambahan konsentrat sebagai pakan penguat. Jenis hijauan yang paling banyak dimakan berasal dari famili Leguminosa, Gramineae atau disebut rumputan, dan ramban atau hijauan dari pohon-pohonan. Hal tersebut yang mendorong penelitian ini sebagai suatu usaha penambahan ilmu pengetahuan dalam pengembangan peternakan yang berbasis pada sumberdaya hijauan pakan lokal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hijauan pakan  kambing lokal dan pemanfaatannya.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung difokuskan pada pengamatan kandang kambing, memprediksi komposisi botani di kandang ternak, menimbang hijauan pakan yang diberikan pada ternak, menimbang ternak dengan sampel setiap kandang. Wawancara dengan setiap peternak terkait kondisi ternak, pakan, lingkungan, serta permasalahannya. Pemotretan untuk dokumentasi situasi lapang dan sebagai pembanding dalam  identifikasi hijauan pakan.
Analisis Data
Data primer dan sekunder yang diperoleh kemudian ditabulasi serta dianalisis secara deskriptif. Hijauan pakan diidentifikasi berdasarkan herbarium dan pemotretan di lapang.  Selanjutnya ditelusuri melalui pustaka dan spesimen  yang ada di puslitbio-LIPI.Komposisi botani ditentukan dengan menggunakan metode “Dry Weight Rank” (Mannetje dan Haydock, 1963). Dengan faktor pengali masing-masing untuk peringkat pertama (8,04),  kedua (2,41) dan ketiga (1).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Wilayah Penelitian
Desa Cigobang terletak di Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon. Cigobang merupakan wilayah dengan topografi datar yang mempunyai ketinggian 20 m dpl. Curah hujan di Desa ini adalah 6 mm/bulan dengan jumlah bulan hujan 6 bulan dari bulan Oktober-Maret. Suhu rata-rata Desa Cigobang adalah 28-30ºC. Luas wilayah Cigobang yaitu 488,795 Ha dengan jumlah penduduk 4644 jiwa (Data Profil Desa Cigobang, 2010).
Peternakan  rakyat di Desa Cigobang tersebar merata. Hal ini dikarenakan lahan sekitar rumah digunakan pemiliknya untuk bersama-sama memelihara ternak kambing secara tradisional dan intensif. Tumbuhan yang berada di perkebunan, hutan, pemakaman umum, dan pinggir jalan desa dan sawah diambil daunnya untuk dijadikan pakan kambing. Jenis penggunaan lahan di Desa Cigobang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1.  Jenis Penggunaan Lahan Tahun 2010 Di Desa Cigobang
No
Jenis Penggunaan
Luas (Ha)
1Sawah Tadah Hujan149,922
2
Tegalan87,177
3
Perkebunan Rakyat10,354
4
Perkebunan Swasta26,250
5
Perkebunan Perorangan20,158
6
Hutan Rakyat180,654
7
Pemukiman32,276
8
Pemakaman4,250
Sumber: Data Profil Desa Cigobang (2010)
Kondisi Umum Peternakan di Desa Cigobang
Populasi kambing di Kecamatan Pasaleman disajikan pada Tabel 2. Populasi kambing yang paling banyak di wilayah Desa yang termasuk Kecamatan Pasaleman adalah ternak kambing dengan jumlah 295 ekor dan populasi kambing terendah yaitu di Desa Tonjong. Ternak kambing merupakan ternak ruminansia yang banyak dipelihara di Desa Cigobang. Kambing yang dipelihara adalah kambing pedaging bukan untuk diperah.
Tabel 2.  Populasi Kambing di Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon
Desa
Populasi (ekor)
Cigobang
295
Cigobangwangi
50
Cilengkrang
48
Cilengkrang Girang
75
Pasaleman
90
Tanjung Anom
55
Tonjong
10
Sumber: Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan Cirebon (2009)
Karakteristik Peternak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak di Desa Cigobang berumur antara 43-58 tahun. Peternak usia produktif tersebut memilih beternak sebagai usaha sampingan dan meneruskan usaha ternak orang tua mereka.
Pendidikan formal peternak cukup beragam mulai SD, SMP, serta SMA, ada pula peternak yang tidak bersekolah. Kondisi tersebut seakan membenarkan anggapan masyarakat bahwa peternak berpendidikan rendah.
Pekerjaan utama peternak di desa Cigobang beragam yaitu: petani, ojek, pedagang, tukang kayu, tukang batu, dan sebagainya. Data ini dapat diartikan bahwa kehidupan ekonomi sebagian besar peternak masih rendah sehingga untuk menambah pendapatan keluarga serta pemeliharaannya dapat dilakukan diwaktu senggang setelah melakukan pekerjaan utama. Peternak di desa Cigobang memiliki bekal pengetahuan mengenai cara beternak dari keluarga secara turun-temurun dan telah berpengalaman memelihara ternak sejak kecil. Rata-rata peternak di desa Cigobang memiliki 5 ekor kambing dengan kepemilikan berjumlah 2-17 ekor. Sumber kepemilikan ternak kambing tersebut berasal dari warisan dan membeli sendiri. Dilihat dari kepemilikan tersebut dapat dikatakan bahwa peternakan rakyat tiap peternak merupakan peternakan skala kecil, sedang, dan besar seperti yang di jelaskan oleh Devendra (2001) membagi skala kepemilikan kambing sebanyak 1-5 ekor termasuk skala kecil, 6-10 ekor termasuk skala sedang, dan lebih dari 10 ekor termasuk dalam skala besar.
Pemeliharaan Kambing
Jenis kambing yang dipelihara pada peternakan rakyat di Desa Cigobang adalah kambing Peranakan Etawa (PE), Jawa Randu, dan Benggala. Sistem pemeliharaan kambing di Desa Cigobang adalah pemeliharaan tradisional dan intensif. Pemeliharaan intensif merupakan pemeliharaan dimana ternak dikandangkan sepanjang hari. Ternak dipelihara dalam satu kandang dan dicampurkan. Bentuk kandang seluruhnya adalah kandang panggung persegi panjang yang terbuat dari kayu, bambu, dan beton yang berkolong dengan jarak 1-1,5 meter agar memudahkan dalam pengumpulan kotoran dan pembersihan kandang.
Atap terbuat dari genteng dan lantai kandang dibuat dari bilah-bilah bambu. Lokasi kandang terletak di belakang atau samping rumah peternak. Pemberian pakan oleh peternak dua sampai tiga kali sehari yaitu pagi, siang, dan sore hari. Setiap seminggu sekali biasanya peternak membersihkan kotoran di kolong kandang dan dipindahkan ke luar kandang, ditumpuk dan dimasukkan ke karung untuk dijual. Sisa hijauan yang berupa ranting dan batang yang tidak dimakan ternak dikumpulkan dekat kandang dan dibakar. Akan tetapi jika terdapat ranting dan batang yang ukurannya sedang sampai besar, maka peternak memanfaatkannya sebagai kayu bakar untuk memasak.
Performa Kambing
Kambing yang terdapat di peternakan rakyat Desa Cigobang ada tiga jenis yaitu kambing Peranakan Etawa (PE), Jawa Randu, dan Benggala. Tampilan kambing PE relatif baik dengan bobot badan rata-rata kambing betina dewasa yaitu 44,8 kg. Rata-rata bobot badan kambing Jawa Randu betina dewasa adalah 38,8 kg, sedangkan untuk kambing Benggala adalah 39,6 kg. Hal ini sesuai dengan Batubara, dkk (2007) bahwa induk kambing Benggala rata-rata bobot badannya adalah 37,9 kg (35-41 kg).
Pola Penyediaan Hijauan Pakan
Sebagian besar peternak di Desa Cigobang beternak secara tradisional dan intensif, serta menyediakan pakan hijauan dengan cara cut & carry. Jenis hijauan tersebut umumnya adalah rumput lapang, leguminosa, dan ramban. Hijauan yang didapatkan berasal dari lingkungan sekitar seperti perkebuan rakyat, pinggiran jalan, pinggiran hutan, sawah, dan sebagian dari pemakaman dan tidak ada areal khusus untuk penanaman pakan kambing.
Kualitas dan Kuantitas Pakan
Jenis hijauan yang diberikan pada ternak didominasi oleh legum dan ramban, sedangkan jenis rumput sedikit sekali diberikan sebab ternak lebih menyukai legum dan ramban. Dengan demikian ternak tidak akan kekurangan protein karena sifat utama legum adalah dapat memperoleh sebagian besar kebutuhan Nitrogen (N) dari gas N2 yang sebagian besar terdapat di udara melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium yang hidup pada bintil akarnya (Reksohadiprojo, 2000).
Jenis dan Komposisi Botani Hijauan Pakan
Jenis dan komposisi botani hijauan pakan dengan metode “Dry Weight Rank” di Desa Cigobang disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Jenis dan Komposisi Botani Hijauan Pakan Di Desa Cigobang
No
Nama Lokal
Nama Latin*
Jenis Hijauan
Komposisi Botani (%)
1
Alang-alangImperata cylindrica Div.
Rumput
0,16
2
AlbasiaAlbizzia falcata BACKER.
Legum
3,91
3
GamalGliricidia sepium Jacq. Kunth ex Walp.
Legum
16,45
4
AngsanaPterocarpus indicus WILLD.
Legum
8,92
5
Kacang tanahArachis hypogaea LINN.
Legum
0,39
6
JoharCassia siamea LAMK.
Legum
4,62
7
LamtoroLeucaena leucocephala LAMK.
Legum
21,98
8
TuriSesbania grandiflora L. PERS.
Legum
9,82
9
SentroCentrosema pubescens Benth.
Legum
1,55
10
KaliandraCalliandra calothyrsus Meissn.
Legum
3,94
11
Semanggi landaTrifolium repens LINN.
Legum
0,55
12
DadapErythrina lithosperma MIQ.
Legum
6,20
13
Daun orok orok jantanShorea pinanga Scheff.
Legum
6,98
14
Daun kecipirPsophocarpus tetragonolobus DC.
Legum
0,80
15
KihiangAlbizzia procera Benth.
Legum
1,90
16
Daun kedondong kecilSpondias lutea LINN.
Ramban
0,94
17
Daun kelorMoringa oleifera LAMK.
Ramban
1,10
18
Daun singkongManihot utilissima POHL.
Ramban
0,87
19
Daun jambu airEugenia aquena BURM.f.
Ramban
0,55
20
Daun RanduCeiba petandra GAERTN.
Ramban
0,96
21
Daun nangkaArtocarpus heterophyllus LAMK.
Ramban
3,49
22
Daun manggaMangifera indica L.
Ramban
0,55
23
Daun kembang sepatuHibiscus rosa-sinensis LINN.
Ramban
0,87
24
Daun kersemMutingia calabura L.
Ramban
0,16
25
Daun kawijaranLannea  grandis ENGL.
Ramban
1,58
26
Daun benalu manggaDendrophthoe pentandra (L.) Miq.
Ramban
0,7
Sumber: * Soerjani dkk. (1987), Heyne (1987), Quattrocchi (2006)

Untuk mendapatkan frekuensi kemunculan tiap spesies hijauan kambing di kandang dengan perhitungan komposisi botani dilakukan satu kali pengambilan sampel hijauan pakan. Jenis hijauan yang diberikan pada kambing terbagi menjadi tiga yaitu rumput 1 spesies, legum 14 spesies, dan ramban 11 spesies.Tabel 3. menunjukkan bahwa peringkat pertama hijauan yang diberikan pada kambing di Desa Cigobang adalah legum dengan jumlah frekuensi pemberian sebesar 88,01 %, disusul oleh ramban dengan frekuensi sebesar 11,85 % dan rumput sebesar 0,16 %. Hal ini dapat dikatakan bahwa kambing di desa Cigobang lebih menyukai jenis hijauan leguminosa.
Jenis Hijauan Pakan Potensial di Desa Cigobang
Hijauan pakan yang potensial dan belum diberikan pada peternakan kambing di Desa Cigobang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Jenis Hijauan Pakan Potensial Di Desa Cigobang
No.
Nama Lokal
Nama Latin
Jenis Hijauan
1
Rumput kori
Brachiaria subquadripara (Trin) A. Mitchc.
Rumput
2
Rumput belulang
Eleusine indica (L) Gaerta.
Rumput
3
Rumput benggala
Panicum maximum JACQ.
Rumput
4
Jukut karukun
Eragrostis amabilis (L) Wight R. Arnott ex Nees.
Rumput
5
Rumput emprit
Eragrostis brownii (kaath) Nees.
Rumput
6
Rumput eksotik
Eulalia trispicata (schalt) Hanrard.
Rumput
7
Tebu
Saccharum officinarum LINN.
Rumput
8
Jagung
Zea mays LINN.
Rumput
9
Bobontengan
Leptochloa chinensis (L.) Ness.
Rumput
10
Rumput pahit
Axonopus compressus (S.W.) Beauv.
Rumput
11
Bayapan
Brachiaria reptan (L.) Gardn & Hubb.
Rumput
12
Rumput kumpai
Hymenachne acutigluma (Steud) Gilliland.
Rumput
Sumber: * Soerjani dkk. (1987), Heyne (1987), Quattrocchi (2006)

Konsumsi Hijauan Pakan
Data penelitian konsumsi menggunakan 47 ekor kambing di 5 peternak dengan rata-rata konsumsi segar per ekor per hari disajikan pada Tabel 5.
 Tabel 5.  Rata-Rata Konsumsi Hijauan Segar Ternak Kambing Di Desa Cigobang (kg/ ekor/ hari)
Peternak
Jenis Kambing
Rata-Rata Bobot Badan (kg)
Rata-Rata Konsumsi (kg/ekor/hari)
% Konsumsi/Bobot Badan
1
PE
28,61
2,90 ± 0,29
10,13
2
Jawa Randu
29,88
2,69 ± 0,28
9,00
3
PE
29,31
2,76 ± 0,34
9,41
4
Benggala
29,95
3,00 ± 0,09
10,01
5
Jawa Randu
28,54
2,88 ± 0,39
10,09
Hasil perhitungan persentase konsumsi terhadap bobot badan dengan total rata-rata sebesar 9,76 % termasuk ideal sebab menurut Soedarjat (2000) pemberian pakan hijauan untuk kambing sekitar 10 % dari bobot badan. Jumlah konsumsi jenis hijauan per hari per ekor disajikan pada Tabel 6. Jumlah konsumsi hijauan paling banyak yaitu hijauan jenis legum.
 Tabel 6.    Jumlah Rataan Konsumsi Jenis Hijauan (Kg/Ekor/Hari)
Jenis Hijauan
Rata-Rata Konsumsi (Kg/ekor/hari)
% Rata-Rata Konsumsi Hijauan
Rumput
0,24 ± 0,04
7,12
Legum
2,68 ± 0,28
79,53
Ramban
0,45 ± 0,14
13,35
Hasil perhitungan persentase rata-rata konsumsi hijauan kambing di Desa Cigobang menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari pakan yang dikonsumsi adalah jenis legum dengan jumlah 79,53 %, kemudian disusul oleh ramban sebesar 13,35 %, dan yang terakhir rumput sebesar 7,12 %. Data tersebut membuktikan bahwa pemberian hijauan pakan paling tinggi di peternakan rakyat kambing Desa Cigobang adalah jenis legum yang sesuai dengan hasil dari perhitungan komposisi botani hijauan pakan. Kambing diberi pakan secara intensif 2 sampai 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang, dan sore hari.

KESIMPULAN
Jenis hijauan pakan pada peternakan kambing rakyat di Desa Cigobang hampir seluruhnya hijauan berdaun lebar, terutama famili Leguminosae.

 DAFTAR PUSTAKA
Balai Taman Nasional Baluran. 2004. Pengendali Ekosistem Hutan dan Pembuatan Herbarium, Baluran.
Batubara, A., B. Tiesnamurti, F. A. Pamungkas, M. Doloksaribu & E. Sihite. 2007. Koleksi Ex-situ dan Karakterisasi Plasma Nutfah Kambing. Laporan akhir RPTP. Lokasi Penelitian Kambing Potong Sei Putih.
Devendra, C. 2001. Small ruminant: Impreratives for productivity enhacement improved livelihoods and rural growth. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 14 (10): 1483-1496.
Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon. 2009. Rencana Strategis Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Tahun 2010-2014. Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, Cirebon.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Edisi ke-2. Terjemahan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Edisi ke-4. Terjemahan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.
Kantor Desa Cigobang. 2010. Data Profil Desa Cigobang Tahun 2010. Desa Cigobang Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon, Cirebon.
Mannetje, L. and K. P. Haydock. 1963. The Dry Weight Rank Method for the Botanical Analysis of Pasture. J. British Grassland Society, Vol. 18 No.4.
Nell. A. J. and D. H. L. Rollinson. 1974. The Requirement and Availability of Livestock Feed in Indonesia, Jakarta.
Quattrocchi, U. 2006. CRC World Dictionary of Grasses. Taylor & Francis Group. New York, USA. Vol. III.
Reksohadiprojo. 2000. Pengantar Hijauan Makanan Ternak. Gadjah mada University Press, Yogyakarta.
Soedarjat, S. 2000. Potensi dan prospek bahan pakan lokal dalam mengembangkan industri peternakan di Indonesia. Buletin Peternakan. Edisi Tambahan: 11-15.
Soerjani, M., A. J. G. H. Kostermans and G. Tjitrosoepomo. 1987. Weed of Rice in indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.
Stone, BC. 1983. A guide to collecting Pandanaceae ( Pandanus, Freycinetia, Sararanga). Ann. Missouri Bot. Gard. 70 : 137-14.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar