Senin, 12 November 2012

Laporan Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Titrasi merupakan suatu metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu larutan menggunakan larutan lain yang telah distandarisasi atau larutan yang konsentrasinya telah diketahui. Dalam metode titrimetri ini, larutan yang akan ditentukan konsentrasinya disebut larutan analit sedangkan larutan yang diketahui konsentrasinya disebut titran. Penambahan titran ke dalam analit dilakukan hingga tercapat titik ekivalen dimana akan terjadi perubahan warna dari larutan indikator. Larutan indikator yang digunakan disesuaikan dengan metode titrimetri yang dilakukan.
Metode titrimetri atau yang juga dikenal dengan metode volumetri secara garis besar diklasifikasikan dalam empat kategori berdasarkan jenis reaksinya, yaitu : titrasi asidi-alkalimetri, titrasi oksidimetri, titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri.
1
Titrasi asidimetri dan alkalimetri merupakan titrasi netralisasi dimana pada titrasi ini digunakan larutan asam dan basa kuat ataupun lemah sehingga dihasilkan air yang bersifat netral. Titrasi ini dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam/basa kuat ataupun lemah yang dititrasi dengan basa/asam lemah ataupun kuat. Berdasarkan latar belakang ini, maka dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar asam asetat, karbonat dan bikarbonat dalam sampel yang digunakan.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan ini, yaitu :
1.    Berapa kadar asam asetat dalam sampel ?
2.    Berapa kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran ?

C. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini, yaitu :
1.    Untuk menentukan kadar asam asetat dalam contoh (sampel).
2.    Untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dari suatu campuran.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Metode Titrimetri
Analisis volumetri atau titrimetri merupakan suatu analisis berdasarkan pengukuran volume larutan dengan konsentrasi yang diketahui, yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit (zat yang akan ditentukan). Analisis volumetri atau titrimetri berdasarkan pada reaksi :
aA + tT ↔ Hasil
dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T (titran).[1]
Menurut M. Sodiq Ibnu, et. al. (2005), jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Berdasarkan jenis reaksinya, maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi 4 golongan, yaitu: asidi-alkalimetri, oksidimetri, kompleksometri dan titrasi pengendapan.
1.   
3
Asidi-alkalimetri didasarkan pada reaksi asam basa atau prinsip netralisasi. Larutan analit yang berupa larutan asam dititrasi dengan titran yang berupa larutan basa atau sebaliknya. Metode ini cukup luas penggunaannya untuk penetapan kuantitas analit asam atau basa. Jika HA mewakili asam dan BOH mewakili basa, maka reaksi antara analit dengan titran dapat dirumuskan secara umum sebagai berikut :
HA + OH- à A- + H2O (analit asam, titran basa)
BOH + H3O+ à B+ + 2H2O (analis basa, titran asam)
Titran umumnya berupa larutan standar asam kuat atau basa kuat, misalnya larutan asam klorida (HCl) dan larutan natrium hidroksida (NaOH).
2.    Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CN- yang mengikuti persamaan reaksi :
Ag+ + 2CN- à
Reaksi antara Ag+ dengan CN- dikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida. Reagen lain adalah EDTA (etilen diamina tetraasetat) yang banyak digunakan sebagai pengompleks berbagai ion logam melalui metode titrasi.
3.    Oksidimetri didasarkan pada reaksi oksidasi – reduksi antara analit dan titran. Analit yang mengandung spesi reduktor dititrasi dengan titran yang berupa larutan standar dari oksidator atau sebaliknya. Berbagai reaksi redoks dapat digunakan sebagai dasar reaksi oksidimetri, misalnya penetapan ion besi(II) (Fe2+) dalam analit dengan menggunakan titran larutan standar cesium(IV) (Ce4+) yang mengikuti persamaan reaksi :
Fe2+ + Ce4+ à Fe3+ + Ce3+
Oksidator lain yang banyak digunakan dalam oksidimetri adalah kalium permanganat (KMnO4), misalnya pada penetapan kadar ion besi(II) dalam suasana asam.
4.    Titrasi pengendapan didasarkan reaksi pengendapan analit oleh larutan standar titran yang mampu secara spesifik mengendapkan analit. Metode ini banyak digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen dengan menggunakan pengendap Ag+, yang reaksi umumnya dapat dinyatakan dengan persamaan :
Ag+ + X- à AgX(s) (X- = Cl-, Br-, I-, SCN-)
            Dalam titrasi juga perlu diperhatikan larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar primer yaitu suatu zat yang sudah diketahui kemurniannya dengan pasti, konsentrasinya dapat diketahui dengan pasti dan teliti berdasarkan berat zat yang dilarutkan. Larutan standar sekunder adalah suatu zat yang tidak murni atau kemurniannya tidak diketahui, konsentrasi larutannya hanya dapat diketahui dengan teliti melalui proses standarisasi, standarisasi dilakukan dengan cara menitrasi larutan tersebut dengan larutan standart primer. Serta faktor yang paling penting adalah ketepatan dalam pemilihan indikator agar kesalahan titrasi yang terjadi menjadi sekecil mungkin.[2]


B. Indikator
Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu. Indikator asam-basa terletak pada titik ekuivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indikator dapat berupa asam atau basa, larut, stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya adalah zat organik. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya indikator menunjukkan warna pada range pH yang berbeda.[3]
Tabel 1. menunjukkan daftar berbagai macam indikator dengan jarak perubahan warna serta warna-warna yang terjadi pada perubahan tersebut.
Tabel 1. Indikator yang biasa digunakan dalam asidi-alkalimetri[4]
Indikator
Trayek pH
Warna
Asam
Basa
Kuning metal
2,4 – 4,0
Merah
Kuning
Biru bromfenol
3,0 – 4,6
Kuning
Biru
Jingga metal
3,1 – 4,4
Jingga
Metil
Hijau bromkresol
3,8 – 5,4
Kuning
Biru
Merah metal
4,2 – 6,3
Merah
Kuning
Ungu bromkresol
5,2 – 6,8
Kuning
Ungu
Biru bromtimol
6,1 – 7,6
Kuning
Biru
Merah fenol
6,8 – 8,4
Kuning
Merah
Merah kresol
7,2 – 8,8
Kuning
Merah
Biru timol
8,0 – 9,6
Kuning
Biru
Fenolftalein
8,2 – 10,0
Tak berwarna
Merah
Timolftalein
9,3 – 10,5
Tak berwarna
Biru
Menurut Achmad Mursyidi dan Abdul Rohman (2008), selain indikator tunggal dalam asidi-alkalimetri juga digunakan indikator campuran dengan tujuan untuk memberikan perubahan warna yang tajam pada titik akhir titrasi. Beberapa contoh indikator campuran adalah :
1.    Campuran merah netral (0,1 % dalam etanol) dan biru metilen (0,1 % dalam etanol) yang sama banyak memberikan perubahan warna yang tajam dari biru violet menjadi hijau ketika beralih dari larutan asam menjadi larutan basa pada pH sekitar 7. Indikator ini dapat digunakan untuk menitrasi asam asetat dengan larutan amonia atau kebalikannya. Baik asam atau basa kekuatannya hampir sama akibatnya titik ekivalen akan berada pada pH kira-kira 7.
2.    Campuran antara 3 bagian fenolftalein (0,1 % larutan dalam etanol) dengan 1 bagian alfa naftoftalein (0,1 % dalam etanol) memberikan perubahan warna yang tajam dari merah muda ke ungu pada pH 8,9. Indikator ini baik untuk titrasi asam fosfat dari tribasik menjadi dibasik yang mana titik ekivalennya terjadi pada pH 8,7.
3.    Campuran dari 3 bagian biru timol (0,1 % larutan dari garam natriumnya) dengan 1 bagian kresol merah (0,1 % larutan garam natriumnya) akan memberikan perubahan warna dari kuning ke ungu pada pH 8,3. Indikator campuran ini baik untuk titrasi karbonat menjadi bikarbonat.


C. Titrasi Asidimetri dan Alkalimetri
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.[5]
Dalam titrasi asam-basa, jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen ditentukan oleh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Untuk reaksi antara HCl dengan NaOH titik ekivalen tercapai pada perbandingan mol 1:1 tetapi untuk reaksi antara H2SO4 dengan NaOH diperlukan perbandingan mol 1:2 untuk mencapai titik ekivalen.
H2SO4 (aq) + 2NaOH (aq) à Na2SO4 (aq) + 2H2(l)
Dalam titrasi asam-basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekivalen. Pada saat tercapai titik ekivalen, penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan pH yang besai ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator. Titik atau kondisi penambahan asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi sering disamakan dengan titik ekivalen, walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. Semua masalah yang berkaitan dengan titrasi asam basa dapat dipecahkan dengan konsep stoikiometri dan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan mol, perbandingan mol, molaritas atau normalitas.[6]
Dalam melakukan titrasi netralisasi kita perlu secara cermat mengamati perubahan pH, khususnya pada saat akan mencapai titik akhir titrasi, hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dimana akan terjadi perubahan warna dari indikator lihat Gambar 1.
Gambar 1. Titrasi alkalimetri dengan larutan standar basa NaOH[7]
Analit bersifat asam pH mula-mula rendah, penambahan basa menyebabkan pH naik secara perlahan dan bertambah cepat ketika akan mencapai titik ekuivalen (pH = 7). Penambahan selanjutnya menyebakan larutan kelebihan basa sehingga pH terus meningkat. Dari Gambar 1, juga diperoleh informasi indikator yang tepat untuk digunakan dalam titrasi ini dengan kisaran pH pH 7 – 10 (Tabel 1).[8]
Larutan baku asam yang sering digunakan dalam asidi-alkalimetri umumnya dibuat dari asam klorida dan asam sulfat. Kedua asam ini dapat digunakan pada hampir semua titrasi, akan tetapi asam klorida lebih disukai daripasa asam sulfat terutama untuk senyawa-senyawa yang memberikan endapan dengan asam sulfat seperti barium hidroksida. Asam sulfat lebih disukai untuk titrasi menggunakan pemanasan karena kemungkinan terjadinya penguapan pada pemanasan asam klorida yang dapat menimbulkan bahaya. Asam nitrat selalu tidak digunakan karena mengandung asam nitrit yang dapat merusak beberapa indikator.[9]
Untuk larutan baku alkali, umumnya digunakan natrium hidroksida, kalium hidroksida dan barium hidroksida. Larutan-larutan ini mudah menyerap karbon dioksida dari udara, oleh karena itu konsentrasinya dapat berubah dengan cepat. Dengan demikian, maka larutan bali alkali dibuat bebas karbonat dan untuk melindungi itu dari pengaruh karbon dioksida dari udara maka penyimpanannya dilengkapi dengan “soda lime tube”. Semua larutan baku alkali harus sering dibakukan ulang.[10]


Menurut Indigo Morie (2008), ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, yaitu :
1.    Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
2.    Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis.
Pemanfaatan teknik ini cukup luas, untuk alkalimetri telah dipergunakan untuk menentukan kadar asam sitrat. Titrasi dilakukan dengan melarutkan sampel sekitar 300 mg ke dalam 100 mL air. Titrasi dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N dengan menggunakan indikator phenolftalein. Titik akhir titrasi diketahui dari larutan tidak berwarna berubah menjadi merah muda. Selain itu alkalimetri juga dipergunakan untuk menganalisis asam salisilat. Teknik asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso.[11]





BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Waktu dan Tempat
Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
Hari/Tanggal   : Rabu/ 30 Mei 2012
Pukul               : 13.30 – 15.00 WITA
Tempat            : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Alauddin Makassar

B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat - alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret asam 50 mL, buret basa 50 mL, erlenmeyer 250 mL, gelas kimia 250 mL dan 100 mL, labu ukur 100 mL, pipet volume 25 mL dan 10 mL, statif dan klem, bulp, corong, botol semprot, spatula dan pipet tetes.
2. Bahan
Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam asetat (CH3COOH) 0,1 M, asam klorida (HCl) 0,0959 N, aquades (H2O), campuran karbonat dan bikarbonat, indikator MO, indikator PP dan natrium hidroksida (NaOH) 0,0989 N.
12
  
C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
1. Titrasi Alkalimetri
a.    Memasukkan 10 mL asam asetat (CH3COOH) ke dalam labu ukur 100 mL.
b.    Mengencerkan larutan sampai tanda batas dengan aquades (H2O).
c.    Memipet 25 mL larutan asam asetat (CH3COOH) yang telah diencerkan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.
d.   Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer.
e.    Menitrasi larutan dengan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah muda.
f.     Mencatat volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan.
g.    Melakukan secara duplo dan menghitung kadar asam asetat dalam sampel.
2. Titrasi Asidimetri
a.    Menimbang 100 mg campuran karbonat dan bikarbonat menggunakan neraca analitik.
b.    Melarutkan campuran karbonat dan bikarbonat dengan aquades (H2O) lalu memindahkan ke dalam labu ukur 100 mL.
c.    Menambahkan aquades (H2O) sampai tanda batas, menghomogenkan larutan. Memipet 25 mL larutan dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.
d.   Menambahkan 5 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer.
e.    Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan menjaid tak berwarna.
f.     Menambahkan indikator MO ke dalam erlenmeyer.
g.    Menitrasi larutan dengan asam klorida (HCl) sampai larutan berubah warna dari jingga ke merah jambu.
h.    Mencatat volume HCl yang digunakan.
i.      Melakukan secara duplo dan menghitung kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil pengamatan dari percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
1. Tabel Pengamatan
a. Titrasi alkalimetri
No.
Perlakuan
Hasil
Keterangan
1.
Asam asetat (CH3COOH) + aquades
Larutan berwarna bening

2.
Larutan asam asetat (CH3COOH) + indikator PP
Larutan berwarna violet
3.
+ titrasi dengan natrium hidroksida (NaOH)
Larutan berwarna merah muda





15

 
 
b. Titrasi asidimetri
No.
Perlakuan
Hasil
Keterangan
1.
Campuran karbonat dan bikarbonat + aquades
Larutan berwarna bening

2.
+ indikator PP
Larutan berwarna violet
3.
+ titrasi dengan asam klorida (HCl)
Larutan berwarna bening
4.
+ indikator MO
Larutan berwarna kuning tua
5.
+ titrasi dengan asam klorida (HCl)
Larutan berwarna orange kemerahan






2. Reaksi
CH3COOH + NaOH à CH3COONa + H2O
Na2CO3 + HCl à NaHCO3 + HCl
NaHCO3 + HCl à NaCl + H2O + CO2
3. Analisa Data
1. Titrasi alkalimetri
a. Simplo                        
Diketahui : BE CH3COOH            = 60 gram/grek
Volume NaOH                        = 1,3 mL
Konsentrasi NaOH      = 0,0989 N
Ditanyakan : % CH3COOH .. ?
Penyelesaian :
Dalam 10 mL contoh asam terdapat :
100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg
100/25 x 0,0013 L x 0,0989 grek/L x 60 g/grek = 0,031 gram
Dalam 100 mL asam asetat =  x B mg
Kadar asam cuka  x  gram
  x 0,031 gram
 = 0,31 gram
% CH3COOH =  x 100 %
= 0,31 x 100 % = 31 %


b. Duplo                         
Diketahui : BE CH3COOH            = 60 gram/grek
Volume NaOH                        = 1,5 mL
Konsentrasi NaOH      = 0,0989 N
Ditanyakan : % CH3COOH .. ?
Penyelesaian :
Dalam 10 mL contoh asam terdapat :
100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg
100/25 x 0,0015 L x 0,0989 grek/L x 60 g/grek = 0,036 gram
Dalam 100 mL asam asetat =  x B mg
Kadar asam cuka  x  gram
  x 0,036 gram
 = 0,36 gram
% CH3COOH =  x 100 %
= 0,36 x 100 % = 36 %
c. Rata-rata
Diketahui : BE CH3COOH       = 60 gram/grek
Volume NaOH        = 1,4 mL
Konsentrasi NaOH = 0,0989 N
Ditanyakan : % CH3COOH .. ?
Penyelesaian :
Dalam 10 mL contoh asam terdapat :
100/25 x volume NaOH x N NaOH x 60 = B mg
100/25 x 0,0014 L x 0,0989 grek/L x 60 g/grek = 0,033 gram
Dalam 100 mL asam asetat =  x B mg
Kadar asam cuka  x  gram
  x 0,033 gram
 = 0,33 gram
% CH3COOH =  x 100 %
= 0,33 x 100 % = 33 %
2. Titrasi asidimetri
a. Simplo                        
Diketahui : Berat sampel                                                    = 0,1007 gram/grek
Volume HCl untuk karbonat (x mL)               = 1,1 mL
Volume HCl untuk bikarbonat (y mL)            = 3 mL
Konsentrasi HCl                                              = 0,0959 N
Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .. ?
Penyelesaian :
bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0,0959 N
= (3 – 1,1) mL = 1,9 mL = 0,0019 L
karbonat dalam sampel    = (2x) mL HCl 0,0959 N
= (2 x 1,1) mL = 2,2 mL = 0,0022 L
% karbonat =
=
= 0,111 x 100 %
= 11,1 %
% bikarbonat =
=
= 0,152 x 100 %
= 15,2 %
b. Duplo                         
Diketahui : Berat sampel                                                    = 0,1007 gram/grek
Volume HCl untuk karbonat (x mL)               = 0,9 mL
Volume HCl untuk bikarbonat (y mL)            = 3,9 mL
Konsentrasi HCl                                              = 0,0959 N
Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .. ?
Penyelesaian :
bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0,0959 N
= (3,9 – 0,9) mL = 3 mL = 0,003 L
karbonat dalam sampel    = (2x) mL HCl 0,0959 N
= (2 x 0,9) mL = 1,8 mL = 0,0018 L
% karbonat =
=
= 0,091 x 100 %
= 9,1 %
% bikarbonat =
=
= 0,239 x 100 %
= 23,9 %
c. Rata-rata
Diketahui : Berat sampel                                               = 0,1007 gram/grek
Volume HCl untuk karbonat (x mL)           = 1 mL
Volume HCl untuk bikarbonat (y mL)        = 3,45 mL
Konsentrasi HCl                                         = 0,0959 N
Ditanyakan : % karbonat dan % bikarbonat .. ?
Penyelesaian :
bikarbonat dalam sampel = (y – x) mL HCl 0,0959 N
= (3,45 – 1) mL = 2,45 mL = 0,00245 L
karbonat dalam sampel    = (2x) mL HCl 0,0959 N
= (2 x 1) mL = 2 mL = 0,002 L
% karbonat =
=
= 0,101 x 100 %
= 10,1 %
% bikarbonat =
=
= 0,196 x 100 %
= 19,6 %



B. Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan percobaan titrasi asidimetri dan alkalimetri untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran serta kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH).
Penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida (NaOH) merupakan titrasi alkalimetri untuk menitrasi asam lemah dengan basa kuat. Dalam titrasi ini digunakan indikator phenolphthalein yang berfungsi sebagai zat penunjuk yang akan memberikan perubahan warna saat titik akhir titrasi telah tercapai. Indikator phenolphthalein digunakan dalam titrasi ini karena indikator ini memiliki rentang trayek pH pada suasana basa yaitu : 8,3 – 10,0 sehingga apabila larutan telah bersuasana basa maka indikator akan mengalami perubahan warna menjadi biru. Awalnya larutan bersuasana asam akibat pH dari larutan asam asetat (CH3COOH) yang digunakan bernilai rendah. Penambahan indikator membuat perubahan warna larutan menjadi violet. Berdasarkan trayek pH indikator phenolphthalein, larutan yang memiliki nilai pH di bawah 8,3 cenderung akan memberikan larutan tak berwarna dan akan berubah menjadi merah dalam larutan yang memiliki nilai pH di atas 10. Penambahan titran natrium hidroksida (NaOH) membuat larutan mengalami perubahan warna menjadi merah muda. Dapat dikatakan bahwa, larutan telah memiliki pH di atas 7. Reaksi antara asam asetat (CH3COOH) dengan natrium hidroksida menghasilkan garam dan air yang bersifat netral, sesuai dengan reaksi di bawah ini :
CH3COOH + NaOH à CH3COONa + H2O
Berdasarkan hasil analisa data, kadar asetat yang diperoleh dari percobaan secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo. Untuk titrasi rata-rata diperoleh kadar asam asetat (CH3COOH) sebesar 33 %. Perbedaan kadar yang diperoleh pada titrasi secara simplo dan duplo disebabkan karena pada salah satu titrasi, larutan telah sedikit melewati titik akhirnya sehingga volume natrium hidroksida (NaOH) yang digunakan lebih banyak dan mempengaruhi perhitungan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam sampel.
Penetapan kadar karbonat dan bikarbonat dalam campuran dilakukan menggunakan metode titrasi asidimetri menggunakan larutan asam klorida (HCl). Penambahan indikator phenolphthalein pada larutan campuran berfungsi sebagai zat penunjuk yang digunakan karena larutan campuran memiliki pH di atas 7 atau berada dalam suasana basa sehingga larutan akan memberikan warna merah secara teori dalam suasana basa. Penambahan indikator pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi violet, penitrasian dilakukan dengan asam klorida (HCl) hingga larutan berubah menjadi tak berwarna. Perubahan warna larutan menjadi tak berwarna menandakan bahwa larutan telah bersuasana asam dimana pada pH di bawah 8,3 larutan akan berubah menjadi tak berwarna. Reaksi antara larutan campuran dengan asam klorida (PP) membuat natrium karbonat bereaksi dengan asam klorida (HCl) menghasilkan natrium bikarbonat (NaHCO3) dan natrium klorida (NaCl), menurut persamaan reaksi :
Na2CO3 + HCl à NaHCO3 + HCl
Untuk menentukan kadar bikarbonat, maka larutan campuran tadi ditambahkan dengan metil orange (trayek 3,1 – 4,5). Penitrasian kembali dilakukan dengan asam klorida (HCl) sehingga larutan mengalami perubahan warna. Setelah penambahan indikator, larutan berubah warna menjadi kuning yang menandakan bahwa larutan memiliki pH di atas 4,5 karena indikator metil orange berdasarkan teori akan berwarna merah apabila memiliki pH kurang dari 3,1 dan berubah warna menjadi kuning pada pH di atas 4,5. Proses titrasi pada larutan membuat larutan berubah warna menjadi orange kemerahan sehingga dapat dikatakan bahwa larutan telah bersuasana basa. Reaksi antara natrium bikarbonat dengan asam klorida (HCl) menghasilkan garam berupa natrium klorida (NaCl), air yang bersifat netral serta uap karbondioksida, sesuai persamaan reaksi :
NaHCO3 + HCl à NaCl + H2O + CO2
Berdasarkan hasil analisa data, kadar karbonat dan bikarbonat pada titrasi secara simplo berturut-turut adalah 11,1 % dan 15,2 %. Pada titrasi secara duplo adalah 9,1 % dan 23,9 %. Kadar karbonat rata-rata yang diperoleh adalah 10,1 % dan kadar bikarbonat rata-rata yang diperoleh adalah 19,6 %.






BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
1.    Kadar asam asetat yang diperoleh secara simplo adalah 31 % dan 36 % pada titrasi secara duplo, sedangkan kadar asam asetat rata-rata yang diperoleh adalah 33 %.
2.    Kadar karbonat yang diperoleh secara simplo adalah 11,1 % serta kadar bikarbonat adalah 15,2 %. Untuk titrasi secara duplo, 9,1 % untuk kadar karbonat dan 15,2 % untuk kadar bikarbonat. Kadar karbonat dan bikarbonat rata-rata yang diperoleh masing-masing adalah 10,1 % dan 19,6 %.

B. Saran
Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan titrasi alkalimetri untuk menentukan konsentrasi atau kadar dari asam poliprotik yang dititrasi dengan basa kuat sehingga dapat diketahui perbedaan titrasi alkalimetri dengan asam lemah dan asam poliprotik.
26

 


DAFTAR PUSTAKA

Chadijah, Sitti Chadijah, Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2012
Ibnu, M. Sodiq Ibnu, et al.. Kimia Analitik I . Malang: Universitas Negeri Malang, 2005
Khopkar, S. M.. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia, 2010
Mursyidi, Achmad dan Abdul Rohman. Volumetri dan Gravimetri. Yogyakarta: UGM-Press, 2008
Morie, Indigo. “Titrasi Asam Basa”, belajarkimia.com. 7 April 2008. http://belajarkimia.com/2008/04/titrasi-asam-basa/. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012
Wilyta, Intan Wilyta. “Asidimetri”, scribd.com. 30 Oktober 2011. http://www.scribd.com/doc/70246435/asidimetri. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012
Zulfikar. “Titrasi Asam Basa”, Chem-is-try.org-Situs Kimia Indonesia. 27 Desember 2010. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/titrasi-asam-basa/. Diakses pada tanggal 31 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar