Rabu, 25 Juni 2014

laporan akhir ilmu bahan pakan

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ILMU BAHAN PAKAN TERNAK










OLEH:
RESTU OSSA PUTRA
D1E012242
KELOMPOK 30











KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
LABORATORIUM ILMU BAHAN MAKANAN TERNAK
PURWOKERTO
2013
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ILMU BAHAN PAKAN TERNAK









Oleh :

RESTU OSSA PUTRA
D1E012242
KELOMPOK 30







Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kurikuler Praktikum
Mata Kuliah Ilmu Bahan Pakan
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman











KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
LABORATORIUM ILMU BAHAN MAKANAN TERNAK
PURWOKERTO
2013
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ILMU BAHAN PAKAN









oleh :
RESTU OSSA PUTRA
D1E012242
KELOMPOK 30









Diterima dan disetujui
Pada tanggal ........................ 2013









KoordinatorAsisten                    AsistenPendamping


               
    Christian Ardita            Ahmad Nugroho            NIM. D1E010024            NIM. D1E010246
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat bimbingannya saya mampu menyusun laporan akhir praktikum ilmu bahan pakan ini. Laporan akhir praktikum ini disusun untuk memenuhi tugas akhir praktikum ilmu bahan pakan dan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti responsi nantinya.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu penyusun antara lain dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Bahan Pakan, seluruh asisten Ilmu Bahan Pakan yang semuanya telah memberikan dukungan moril pada penulis, serta rekan – rekan semua yang, yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan ini.
Laporan yang saya susun ini untuk tinjauan pustaka dan pembahasannya sendiri terdapat kutipan dari beberapa sumber, Dan didalamnya membahas nomenklatur, alat-alat laboratorium, pengujian fisik dan praktikum lainnya
Akhir kata saya berharap laporan akhir ini benar sehingga saya dapat mengikuti response nantinya. Mohon maaf bila dalam lapoaran akhir ini terdapat kekurangan, dan kalimat yang menyinggung pembaca. Terimakasih

Purwokerto, 10 Desember 2013

                                         Penyusun










                                                 DAFTAR ISI                                  Halaman

I. PENDAHULUAN    7
1.1       Latar Belakang    7
1.2       Waktu dan Tempat    8
II. TUJUAN DAN MANFAAT    9
2.1  Tujuan      9
2.2  Manfaat    9
III. TINJAUAN PUSTAKA    10
3.1       Nomenklatur Hijauan, Bahan Pakan, dan Pengenalan Alat    10
3.2    Uji Fisik    11
3.3       Analisis Proksimat    11
3.4     Free Fatty Acid    13
3.5    Gross Energy    14
IV. MATERI DAN CARA KERJA    15
4.1   Materi    15
4.2      Cara Kerja    18
4.2.1   Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat    18
4.2.2   Uji Fisik    19
4.2.3   Analisis Proksimat    20
4.2.4 Free Fatty Acid    23
4.2.5 Gross Energy    24
V.  HASIL DAN PEMBAHASAN    25
5.1        Hasil    25
5.1.1     Pengenalan Alat dan Nomenklatur Bahan Pakan    25
5.1.2.   Uji Fisik Bahan Pakan    33
5.1.3    Analisis  Proksimat    34
5.1.4  Free Fatty Acid (FFA)    36
5.1.5   Gross Energy(GE)     36
5.2    Pembahasan    37
5.2.1 Nomenklatur Hijauan dan Bahan Pakan    37
5.2.2 Pengenalan Alat    39
 5.2.3  Uji fisik    40
5.2.4    Analisis Proksimat    41
5.2.5 Analisis Asam Lemak Bebas (FFA)    44
5.2.6  Gross Energy    45
IV. KESIMPULAN DAN SARAN    46
4.1   Kesimpulan    46
4.2  Saran    46
DAFTAR PUSTAKA    47

I. PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
    Berbagai  jenis tumbuhan mulai dari hijauan segar seperti rerumputan (graminae) atau bisa juga kacang-kacangan (leguminosa) dapat hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Belum lagi limbah pertanian yang jika dimanfaatkan dengan baik, dapat membantu proses pemberian pakan begi ternak dalam menanggulangi musim kemarau yang datang setahun sekali di Indonesia. Bahan pakan ternak merupakan bahan yang sudah dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh ternak itu sendiri. Ada berbagai macam jenis bahan pakan, seperti bahan pakan yang berasal dari tumbuhan atau sering disebut dengan hijauan dan ada juga yang berasal dari hewan atau campuran berbagai macam jenis bahan pakan atau yang lebih dikenal dengan konsentrat. Pemberian nama atau nomenklatur bahan pakan dianggap perlu dilakukan karena adanya keanekaragaman jenis pakan sehingga dengan pemberian nama atau nomenklatur ini akan terhindar dari kesamaan jenis bahan pakan antara yang satu dan yang lainnya.
Penyediaan bahan pakan pada hakikatnya adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah  zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara penyusunan ransum diperlukan pengetahuan tenang kandungan-kandungan apa saja yang terkandung dalam suatu bahan pakan sepertikadar air, kadar abu, lemak kasar, serat kasar, dan protein kasar.
Bahan pakan selain memiliki kandungan-kandungan yang beraneka ragam juga memiliki karakteristik yang berbeda. Maka dari itu perlu sekiranya analisis terkait hal tersebut. Analisis disini berarti bukan hanya menemukan zat nutrisi yang baik bagi hewan ternak, namun juga kadar nutrisi yang nantinya merugikan bagi ternak itu sendiri. Uji fisik merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui bagaimana karakteristik suatu bahan pakan. Hal ini juga perlu mendapatkan perhatian tersendiri agar produktifitas dari hewan tearnak dapat terus meningkat.
Berlanjut ke analisis asam lemak bebas ditentukan sebagai kandungan asam lemak yang terdapat paling banyak dalam minyak tertentu. Bahan pakan memiliki tingkat kerusakan minyak, oleh karena itu dilakukan analisis FFA untuk mengetahui tingkat kerusakan minyak pada suatu bahan pakan. Semakin tinggi FFA , semakin tinggi tingkat kerusakan minyaknya. Asam lemak bebas suatu bahan pakan merupakan salah satu contoh senyawa yang akan berbahaya jika dikonsumsi oleh ternak dengan jumlah yang berlebihan.
Pemberian pakan merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan gizi pada ternak guna meningkatkan produktifitasnya. Nilai gizi yang baik akan diindikasikan dengan nilai energi yang baik pula. Nilai energi pada suatu bahan pakan dapat dinyatakan dengan berbagai carasalah satunya dengan cara Gross Energy. Pernyataan mengenai nilai energi bisa didapatkan secara langsung dengan penelitian atau dihitung dengan menguraikan faktor-faktor yang dimilikinya. Energi sangat dibutuhkan bagi semua mahluk hidup termasuk hewan ternak terutama untuk melangsungkan metabolisme sehari – hari dan berpengaruh terhadap hasil produksi.
 Bahan pakan memang menjadi hal yang paling utama dalam sebuah usaha peternakan. Selain faktor bahan pakan mempengaruhi hasil produktifitas dari faktor ini banyak sekali memakan biaya hampir separuh dari pembiayaan sutau peternakan. Maka banyak dilakukan upaya – upaya agar dapat menekan biaya pemrosesan tetapi tetap dapat meningkatkann produktifitasnya. Hal inilah yang melatarbelakangi diadakannya serangkaian praktikum ini. Diharapkan setelah diadakannya praktikum ini praktikan dapat mengembangkan pengetahuannya.
1.2       Waktu dan Tempat
    Praktikum Ilmu Bahan Pakan dilakukan pada hari Kamis sampai dengan Sabtu, pada tanggal 07 – 09 November 2013, di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.





II. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1  Tujuan 
1. Praktikan dapat mengerti dan menggunakan alat di laboratorium.
2. Praktikan dapat memberikan kepastian nama agar tidak terjadi penduplikasian bahan pakan
3. Mengetahui kandungan gizi dalam suatu bahan pakan.
4. Praktikan mengetahui tentang sifat fisik dan melakukan uji fisik terhadap suatu bahan pakan.
5.    Praktikan dapat mengetahui kandungan asam lemak yang terkandung dalam suatu bahan pakan.
6. Praktikan dapat mengetahui kandungan energi suatu bahan pakan.
2.2  Manfaat
1 Dapat mengerti dan memberikan kepasrtian nama sehingga tidak terjadi penggandaan dalam pemberian nama.
2 Dapat menggunakan alat di Laboratorium sesuai fungsi dan kegunaannya.
3 Mengetahui kualitas suatu bahan pakan.
4 Dapat menerapkan analisis proksimat dalam suatu pakan.
5 Mengetahui kandungan gizi setiap bahan pakan untuk diberikan kepada ternak.
6 Mengetahui kecernaan dalam suatu pakan
7 Memperkirakan kuantitas pakan dalam suatu ternak dengan mengetahui energy bruto dalam suatu pakan.



III. TINJAUAN PUSTAKA

3.1       Nomenklatur Hijauan, Bahan Pakan, dan Pengenalan Alat
    Bahan makanan ternak adalah suatu bahan yang dapat dimakan oleh hewan yang mengandung energi dan zat gizi (atau keduanya) di dalam makan tersebut (Hartadi, 1990).  Sedangkan pengertian bahan pakan yang lebih lengkap yaitu segala sesuatu yang dapat dimakan hewan (ternak) yang mengandung unsur gizi dan atau energi, yang tercerna sebagian atau seluruhnya dengan tanpa mengganggu kesehatan hewan yang bersangkutan (Sutardi, 2003).
Negara yang telah maju, nama-nama bahan pakan yang diperdagangkan telah diatur oleh pemerintah.  Nama-nama tersebut meliputi keterangan mengenai proses yang dikerjakan oleh perusahaan atau pabrik pakan ternak yang memuat tanggungan kualitasnya.  Nama bahan pakan tersebut biasanya adalah nama umum atau nama dagang.  Oleh karena itu ada salah satu cara pemerian nama internasional diusulkan untuk menanggulangi ketidakteraturan dalam pemberian nama bahan pakan (Rahardjo, 2002). 
Menurut Tillman (1993), bahan pakan ternak terdiri dari hijauan dan konsentrat, serta dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar yaitu bahan pakan konvensional dan bahan pakan inkonvensional.  Bahan pakan konvensional adalah bahan pakan yang lazim digunakan sebagai bahan pakan ternak, seperti hijauan, leguminosa, butiran, dan feed additive. Sedangkan bahan pakan inkonvensional adalah bahan pakan yang tidak lazim diberikan pada ternak, seperti limbah industri kue dan roti, bulu, darah, dan kulit nanas.
    Nomenklatur berisi tentang peraturan untuk pencirian atau tata nama bahan pakan. Pencirian bahan pakan dirancang untuk memberi nama setiap bahan pakan. Setiap pemberian tata nama bahan pakan terdiri atas enam faset. Pengenalan alat dan nomenklatur bahan pakan merupakan hal yang paling mendasar sebelum melakukan analisis kimia terhadap bahan pakan. Pengenalan alat mencakup semua instrumen laboratorium sebagai pendukung langsung dalam menganalisis bahan pakan. Pengenalan alat dan pengetahuan cara pemakaian harus dipahami agar diperoleh hasil yang tepat. Cara pokok dalam perlakuan umum yang sering dijumpai dalam laboratorium agar memperoleh hasil analisa yang benar, antara lain dilakukan pengenalan mengenai alat-alat laboratorium dan cara penggunaannya (Sudarmadji, 1997).
3.2    Uji Fisik
Pertumbuhan, produksi, reproduksi dan hidup pokok hewan memerlukan zat gizi. Makanan ternak berisi zat gizi. Fungsi – fungsi zat gizi memungkinkan bahan pakan digunakan dalam penyusunan ransum secara sederhana (Jaelani, 2007). Secara umum sifat fisik bahan pakan tergantung dari jenis dan ukuran partikel bahan. Sekurang – kurangnya ada enam sifat fisik pakan yang penting yaitu berat jenis, kerapatan tumpukan, luas permukaan spesifik, sudut tumpukan daya ambang, dan faktor higroskopis (Jaelani, 2007).
Penyediaan bahan pakan pada hakikatnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat – zat makanan. Peemilihan bahan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat makan itu sendiri. Untuk mengetahui berapa jumlah zat makanan yang diperlukan  oleh ternak serta cara penyusunan ransum, diperlukan pengetahuan mengenai kualitas zat makanan. Ini merupakan suatu keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin tidak mempunyai sifat kimia secara individual (Soejono, 1994).   
Partikel yang lebih padat atau rapat berpindah ke bawah melewati partikel lam yang lebih halus atau ringan. Menurut Axe (1995), apabila bahan mempunyai berat jenis partikel yang berbeda jauh, maka cenderung memisah setelah mixing dan handling.  Luas permukaan spesifik merupakan bahan pada berat tertentu mempunyai permukaan luas.  Peranan dari permukaan luas adalah untuk mengetahui tingkat kehalusan dan suatu bahan secara spesifik akan tetapi tanpa diketahui adanya komposisi secara keseluruhan. Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu partikel bahan jika dijatuhkan dari atas ke bawah dalam jangka waktu tertentu. Sudut Tumpukan adalah sudut yang dibentuk oleh bahan pakan diarahkan pada bidang datar.  Sudut tumpukan merupakan kriteria kebebasan bergerak pakan dalam tumpukan.  Semakin tinggi tumpukan, maka semakin kurang bebas suatu tumpukan.  Sudut tumpukan berfungsi dalam pembentukan kemampuan mengalir suatu bahan, efisiensi pengangkutan secara mekanik (Thomson, 1984).
3.3       Analisis Proksimat
    Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1993).   
Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikro-nutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji, 1997). Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990).  
    Banyaknya kadar air dalam suatu bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan pada suhu 105⁰C dalam peranti pemanas, seperti oven. Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis). Metode pengeringan melalui oven sangat memuaskan untuk sebagian besar makanan, akan tetapi beberapa makanan seperti silase, banyak sekali bahan-bahan atsiri (bahan yang mudah terbang) yang bisa hilang pada pemanasan tersebut (Winarno, 1997). Bahan kering dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persentase kadar air suatu bahan pakan yang dipanaskan hingga ukurannya tetap (Anggorodi, 1994). 
Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitung-an bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400 – 600oC sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian anorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan anorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).
Pakan hijauan merupakan sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba rumen (Farida,1998). Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada spesies dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994).        
Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi (Tillman et al., 1993).
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol dan pigmen oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Selain itu, ada jugaPenetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).
Jumlah protein dalam pakan, salah satunya ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan kemudian dikali dengan faktor protein 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, dianggap bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 1990). Menurut Siregar (1994) senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia, sehingga kandungan protein pakan dapat meningkat dari kadar awalnya. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak. Jika konsumsi N makanan rendah, maka N yang dihasilkan dalam rumen juga rendah. Jika nilai hayati protein dari makanan sangat tinggi maka ada kemungkinan protein tersebut didegradasi di dalam rumen menjadi protein berkualitas
3.4     Free Fatty Acid
Penetapan asam lemak bebas berprinsip bahwa lemak bebas yang terdapat paling banyak pada minyak tertentu (Sutardi et.al, 2002). Analisis ini diperhitungkan banyaknya zat yang larut dalam basa atau asam di dalam kondisi tertentu. Asam lemak bebas tidak mengurangi fungsi antioksidan dan melindungi ternak. Apabila penambahan terlalu banyak kadar lemak bebas, akan merusak mesin karena asam lemak mudah bereaksi dengan bagian metan yang akhirnya menyebabkan karat. Asam lemak dengan grup-grup fungsional seperti epoksi dan hidroksi sulit sekali untuk diesterifikasi tanpa merusaknya terlebih dahulu. Katalisis ester yang sulit dilakukan dengan metode kimiawi tersebut menjadi sederhana dengan pemanfaatan teknologi enzimatik lipase (Sudarmadji, 1996).
3.5    Gross Energy
Menurut Anggorodi (1994), energi bruto bahan pakan ditentukan dengan membakar sejumlah bahan tersebut sehingga diperoleh hasil oksidasi yang berupa karbon dioksida, air dan gas-gas lainnya. Untuk tujuan itu digunakan bom kalorimeter guna mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran tersebut. Kalorimeter bom terdiri dari suatu bejana tertutup tempat bahan pakan dibakar bom dimasukkan dalam tabung yang mengandung air yang menyerap panas (kalori) yang timbul.
Menurut Rahardjo (2002), bila suatu nutrien organik dibakar sempurna sehingga menghasilkan oksida (CO2, H2, gas dan oksida lainnya) maka panas yang dihasilkan disebut energi bruto. Untuk menentukan besarnya energi bruto dari nutrien atau bahan pakan dapat digunakan bomb kalorimeter. Besarnya nilai energi bahan pakan tidak sama tergantung dari macam nutrien dari bahan pakan. Penentuan nilai energi yang umum adalah istilah energi bruto, energi dapat dicerna, energi metabolisme atau energi netto. Bom kalorimeter digunakan untuk mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran tersebut, yang terdiri dari suatu bejana yang ditutup dimana bahan dibakar (Anggorodi, 1994). Pada prinsipnya, energi bruto suatu bahan makanan yang didapatkan dapat ditetapkan dengan cara membakar sejumlah bahan sehingga diperoleh hasil oksidasi yang berupa karbondioksida, air dan gas lainnya (Suparjo, 2007).











IV. MATERI DAN CARA KERJA

4.1   Materi
4.1.1 Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
1) Daun dadap            9) Daun rami
2) Daun gamal                10) Daun waru
3) Daun kaliandra            11) Jagung
4) Daun lamtoro            12) Jerami padi
5) Daun murbei                13) Rumput benggala
6) Daun nangka            14) Rumput gajah
7) Daun nangka            15) Rumput raja
8) Daun pisang            16) setaria ancep
9) setaria lampung

4.1.1.2  Pengenalan Bahan Pakan
        1)  Bungkil kedelai        9) Mollases
        2)  CuSO4                 10) Onggok
        3)  Dedak                11) Phosphat alam
        4)  Feed additives            12) Tepung cangkang keong
        5)  Jagung pipilan            13) Tepung ikan
        6)  Kapur                14) Tepung kerabang telur
        7)  Limbah soun            15) Tepung kerang
        8)  Milet                16) Tepung udang

4.1.1.3 Pengenalan Alat
        a. Autoklaf                h. Destilator
        b. Becker glass            I. Destruktor
        c. Bomb kalorimeter        j. Filler
        d. Cawan porselin            k. Gelas ukur
        e. Corong kaca            l. Kompor listrik
        f. Corong vakum            m. Kondensor
        g. Desikator                n. Labu didih
        o. Labu kjedhal            u. Pompa vakum
        p. Oven                v. Soxhlet
        q. Pipet tetes                w. Statif dan Buret
        r. Pipet seukuran            x. Tabung erlenmeyer
        s. Pipet ukur                y. Tabung reaksi
        t. Waterbath                z. Tang penjepit
4.1.2    Uji Fisik
4.1.2.1 Daya Ambang           
             Alat dan bahan :
        1. Dedak 1 gram (sampel)        3. Nampan
        2. Stopwatch            4. Timbangan analitik
4.1.2.2 Sudut Tumpukan
            Alat dan bahan :
       1. Dedak 200 gram (sampel)    3. Besi penyangga
       2. Corong                4. Timbangan analitik
4.1.2.3 Luas permukaan spesifik
            Alat dan Bahan :
        1. Kertas milimeter blok        3. Spidol
        2. Dedak 1 gram  (sampel)        4. Timbangan analitik
4.1.2.4 Berat Jenis
            Alat dan bahan :
        1. Konsentrat itik (sampel)        3. Gelas ukur
        2. Neraca Ohause            4. Sendok

4.1.3 Analisis proksimat
4.1.3.1 Analisis Kadar Air
Alat dan bahan :
        1. Cawan porselen             5. Oven
        2. Desikator            6. Timbangan analitik
        3. Tang penjepit            7. Spatula
        4. Sampel



4.1.3.2  Analisis Kadar abu
Alat dan bahan :
       1. Cawan porselen            4. Desikator
       2. Tanur                5. Timbangan analitik
       3. Tang penjepit            4. Sampel

4.1.3.3 Analisis Protein kasar
Alat dan bahan :
       1. Destruktor             7. Destilator
       2. Statif dan buret            8. Labu kjeldahl
       3. Erlenmeyer            9. Sampel
       4. Timbangan analitik        10. Pipet tetes
       5. H2SO4 pekat 5 ml        11. Metyhyl red
       6. HCl 40%            12. Asam Borat 2-3% 10ml

4.1.3.3 Analisis Lemak Kasar
Alat dan bahan :
 1. Labu penampung        6. Desikator
 2. Timbangan analitik        7. Etil ether
 3. Kertas saring wathman        8. Pendingin tegak
 4. Soxhlet                9. Oven
 5. Waterbath            10. Sampel

4.1.3.4 Serat kasar
Alat dan bahan :
 1. Cawan porselen            6.  Timbangan analitik
 2. Oven                7. Aseton
3. Tanur                8.  H20 Panas
4. Tang penjepit            9. H2SO4 0,3 N dan NaOH 1,5 N
5. Pompa vacum            10. Sampel

4.1.4 FFA
         Alat dan bahan :
    1. Erlenmeyer            5. Buret & statif
    2. Kondensor             6. Sampel R3
    3. NaOH 0,1 N             7. Alkohol 50 ml
    4. Indikator PP            8. Kompo1qr listrik

4.1.5 Gross Energy
         Alat dan bahan :
     1. Bom kalorimetri            6. Timbangan analitik
     2. Bucket                7. Becker glass
     3. Seperangkat alat titrasi        8. Kawat
     4. Sampel                9. Larutan Methyl Orange
     5. Larutan Na2CO3 0,075 N
4.2      Cara Kerja
4.2.1   Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.2.1.1 Nomenklatur Hijauan dan Konsentrat
Bahan pakan di persiapkan


Bahan-bahan diamati dan di foto

4.2.1.2 Pengenalan Alat
Alat-alat disiapkan

Alat-alat diamati dan difoto

Alat-alat diamati cara kerjanya
4.2.2   Uji Fisik
4.2.2.1 Daya ambang
1 gram sampel


dijatuhkan dari jarak 1 m


waktu dicatat

4.2.2.2 Sudut tumpukan
disiapkan alat dan bahan

dipasang corong

bahan ditimbang 200 gr

bahan dituang

diukur diameter

diukur tinggi bahan


DA=JarakWaktum/dt

4.2.2.3 Luas permukaan spesifik
1 gram sampel


diratakan pada milimeter blok


diukur luasnya


LPS=luas berat





4.2.2.4 Berat jenis
gelas  ukur ditimbang


sampel dimasukan


ditimbang


BJ=Berat (B-A)volume

4.2.3   Analisis Proksimat
4.2.3.1 Analisis Kadar Air
Cawan porselin dioven 1 jam, 105oC


Masukan desikator 1 jam


  Cawan ditimbang dan sampel ditimbang 2 gr (Y), dalam cawan


Cawan dan sampel dioven (1050C) selama 8 jam, 105o C


didesikator (10 menit)


sampel ditimbang

KABerat Cawan+Berat Pakan-Berat Setelah di ovenBerat Bahan100%

4.2.3.2 Analisis Kadar Abu
cawan porselin berisi BK


ditanur 6000C (4-12 jam)


didesikator


sampel ditimbang 


Kadar Abu=Berat Setelah di tanur-berat cawanberat bahan100%

4.2.3.3 Analisis Protein Kasar
sempel ditimbang 0,1 gr


dimasukan kedalam labu kjeldhal


ditambah 3 gr katalisator dan 1,5 ml H2SO4 pekat


didestruksi sampai berwarna jernih


didestilasi
erlenmeyer diisi  asam borat 2 – 3% & methyl red


alat penyuling disiapkan


tambahkan 10 ml NaOH 40%


akhiri jika sudah 60 ml


titrasi dengan HCl 0,1 N, hingga warna merah muda


PK ml titranxN HClx 0,014 x 6,25berat bahan100%






4.2.3.4 Analisis Lemak Kasar
labu penampung dibersihkan


sampel ditimbang 1 gr dan dibungkus kertas saring


dikeringkan dalam oven selama 14 jam 105oC


alat ekstraksi di siapkan


                  sampel dimasukan dan ditambah Ethyl eter 2 kali


diekstrasi selama 4-6 jam


diangin-anginkan hinggaterbebas dari Ethyl Eter


Dikeringkan dalam oven


didesikator


ditimbang


LK=Berat setelah di oven pertama- berat setelah di oven (kedua)berat bahan

4.2.3.5 Analisis Serat kasar
sampel ditimbang 2 gr


dimasukan ke erlemeyer


ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N


didihkan (30 menit)


ditambahkan 20 ml NaOH 1,5 ml


disaring dengan kertas saring


dicuci dengan 50 ml H2O panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml H2O panas, 25 ml Aceton


dioven 1050c


didesikator


ditimbang (Y)


ditanur 6000c sampai menjadi abu


didesikator


ditimbang (Z)


SK=berat setelah di oven-berat setelah di tanur-berat kertasberat bahan100 %

4.2.4 Free Fatty Acid
sampel ditimbang 7,05 gr


ditambahkan alkohol netral 25 ml


direfluk 15 menit setelah mendidih


disarinng, ambil 10 ml tambah pp 2 ml


dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna merah muda

4.2.5 Gross Energy
sampel ditimbang 1 gr

dibungkus dan diikat

dimasukan dalam bom kalorimeter

diisi oksigen

dimasukan dalam bucket


dibakar, temperatur dicatat


dikeluarkan


dicuci dengan aquades


dikeluarkan


air cucian diambil 10 ml


ditambah indikator methyl orange


dititrasi dengan Na2CO3 sampai berwarna orange

V.  HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1        Hasil
5.1.1     Pengenalan Alat dan Nomenklatur Bahan Pakan
5.1.1.1   Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan

Tabel 1. Nomenklatur Bahan Pakan Hijauan
No.
NamaIlmiah
Gambar
Bagian
Proses
Tk. kedewasaan
Defoliasi
Grade
Sumber
1
Rumput Raja (Pennisetum purpuroides)

Aerial
Segar
Dewasa
40hari
PK
8%-12%
SK
18%
Energi
2.
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

Aerial
Segar
Dewasa
40hari
PK
8-12%
BK
11-14%
Energi
3.
Rumput Benggala (pannicum maximum)

Aerial
Segar
Dewasa
40-60 hari
PK 5,2%
SK 19 %
Energi
4.
Setaria Lampung
(Setaria splendida)

Daun
Segar
Dewasa
-
PK 6-7%
SK 42 %
Energi
5.
Setaria Ancep (Setaria spachelata)

Daun
Segar
Dewasa dan muda
-
PK 12%
SK 18%
Energi

6
Lamtoro (Leucaena glauca)

Daun
Dilayukan
Dewasa
-
PK
18-23%
SK
9-10%
Protein
7.
Kaliandra (Calliandra callothyrsus )

Daun
Dilayukan
Dewasa
-
PK
 18-23%
SK
9-10 %
Protein
8.
Daun Dadap (Eritrina litospermae)

Daun
Dilayukan
Muda
-
PK 18%
SK 8%
Energi
9.
Rami
(Boehmerianivea )

Daun
Dilayukan
Muda
-
PK
24,3%
SK 8%
Energi
10.
Daun Waru
(Hibiscus tileateus )

Daun
Dilayukan
Muda
-
PK
16-17%
SK 7%
Energi
11.

Padi (Oryza sativa )


Aerial
Dikering-
kan
Dewasa/Tua
100 hari
PK
 3,4 %
SK 33,8%
Energi
12.
Daun Murbey (Morus indica L)

Daun
Dilayukan
Muda
-
PK
15 %
Energi
13.
Pepaya (Carica papaya)

Daun
Dilayukan
Muda dan dewasa
-
PK
 9-12%
SK
3-4%
Energi
14.
Pisang
(Musa paradisiaca)


Daun
Dilayukan
Muda dan dewasa
-
PK 8,36%
SK
14%
Energi
15.
Gamal (Glisirida maculata )


Daun
Segar
Dewasa
-
PK
12-14%
SK
 14-16%
Protein
16.
Jagung
(Zea mays)

Aerial
Hay, segar
Dewasa
-
SK
16-18%
PK 10.82%
Energi
17.
Daun Nangka (Arthocarpus integra)

Daun
Dilayukan
Muda
-
PK
5-6%
SK 6%
Energi

Tabel 2.NomenklaturBahanPakanKonsentrat
No
Nama
Gambar
Asal
Proses
Sumber
Bagian
Grade
1.
Bungkil Kedelai

Kedelai
Digiling/Dipress
Protein
Biji
PK 42%
SK 6%
2.
Tepung Ikan

Ikan
Digiling,dikeringkan
Protein
Utuh
PK 61%
SK 5%
3.
Onggok

Singkong
Digiling, dipress, dikeringkan
Energi
Umbi ( tanpa kulit )
PK
2%
SK10,8%
4.
Jagung pipilan

Jagung
Pipil, dijemur
Energi
Biji
PK 8,5% SK 2,5%
Vit.B
5.
Dedak Padi

Padi
Hasil penggilingan pertama
Energi
Kulit ari
PK
12 %
SK
11,0 %
6.
Tepung Limbah Soun

Ketela
Digiling, dikeringkan
Energi
Limbah pembuatan soun
-
7.
Tepung Cangkang Keong

Keong
Digiling, dikeringkan
Mineral
Cangkang
-
8.
Tepung Cangkang Kerang

Kerang
Digiling, dikeringkan
Mineral
Cangkang
PK
25-27%
9.
Tepung Kerabang telur

Kerabang Telur
Digiling, Dikeringkan
Mineral
Cangkang
PK
7,6%
SK 36,4%
Ca
18-20%
10.
Kapur

Batuan alam
Digiling, dikeringkan
Mineral
Batu-batuan
Vit.A
Ca 20-25%
11.
Fosfat alam

Batuan alam
Digiling
Mineral (fosfat)
Batu-batuan
Vit.B
Fosfat 60%
Ca 20-25%
12.
CuSO4

Batuan alam
Dipecahkan sampai halus
Mineral
Batu-batuan
Vit. B
13.
Molases

Tebu
Digiling/dipress
Energi
Batangnya
PK 4,2%
TDN 63%
Vit.B
14.
Feed Aditives

-
Dicampur, disintetis
Sumber Vitamin
Feed Aditives
Vit. A,D,E,K
15.
Millet

Tumbuhan Millet
Dikeringkan, dijemur
Energi
Biji-bijiannya
PK 12,6%
SK 2,4%
16.
Tepung Udang

Udang
Digiling, dikeringkan
Protein
Utuh
PK
 22-23%
17.
Urea

Batuan alam
Digiling
Protein
Batuan alam
N=40%


Tabel 3.PengenalanAlat
No
Nama
Gambar
Fungsi
1.
Labu Erlenmeyer

Menampung larutan

2.
Becker Glass

Menampung larutan
3.
Gelas Ukur

Menampung dan mengukur larutan
4.
Tabung Reaksi

Untuk mereaksikan larutan
5.
Cawan Porselin

Menampung sampel saat dioven dan ditanur
6.
Corong Kaca

Menuangkan larutan
7.
Labu Didih

Untuk menampung sampel / larutan diatas kompor saat pemanasan
8.
Labu Kjedahl

Untuk menampung sampel pada analisis PK
9.
Spatulla

Untuk mengambil Sampel
10.
Filler

Untuk mengambil / menyedot larutan
11.
Tang Penjepit

Untuk Mengambil Alat
12.
Tabung Soxhlet

Untuk ekstraksi LK
13.
Bucket

Untuk pembakaran saat GE
14.
Pipet Tetes

Untuk Mengambil Larutan
15.
Pipet Ukur

Mengambil larutan dengan skala tertentu
16.
Pipet Seukuran

Mengambil larutan dengan volume tertentu
17.
Buret dan statif

Untuk mentitrasi
18.
Timbangan Analitik

Menimbang Sampel
19.

Desikator

Menstabilkan Suhu
20.
Kertas saring

Untuk analisis SK, Membungkus Bahan
21.
Neraca O’hauss

Untuk menimbang
22.
Tanur

Untuk mengabukan
23.
Magnetik stirer

Mencampur larutan
24.
Destilator

Untuk mendestilasi
25.
Bom kalorimeter

Analisis GE
26.
Destruktor

Untuk mendestruksi
27.
Autoclave

Mensterilkan
28.
Kompor Llistrik

Memanaskan
29.
Kondensor

Mendinginkan dan menahan uap
30.
Waterbath

Memanaskan dan merefluk
31.
Oven

Menguapkan kadar air
32.
Pompa vaccum

Menyedot larutan yang ada diatasnya, ke erlenmeyer
33.
Inkubator

Menginkubasi/menumbuhkan mikrob
5.1.2.      Uji Fisik Bahan Pakan
5.1.2.1.  Sudut Tumpukan
     Sampel (X1)    :    200 gram
     Tinggi (t)    :    7,6 cm
     Diameter (d)    :    21,5cm
     jawab :
   
               =
   
   
No
Kelompok
Sampel
Hasil
1
26
tp. jagung
38,32
2
27
tp. kedelai
37,6
3
28
tp. jagung
37,97
4
29
tp. kedelai
37,56
5
30
tp. daun pepaya
35,26
5.1.2.2.  Berat Jenis/BJ (Density)
     BA (BeratGelas)            = 88,3 gram
     BB (BeratGelas + dedak)               = 115,6 gram
     volume             = 100 ml
   
             =
             = 0,273  g/ml
5.1.2.3.  DayaAmbang
      berat sampel = 1,01 gram
   
   
   
              =
              = 0,36 m/detik
5.1.2.4.  Luas Permukaan Spesifik
Berat    =    1,01  gram
Luas    =    35,5 cm
LPS    =
    =
5.1.3    Analisis  Proksimat
5.1.3.1.  Analisis Kadar Air
     Berat cawan porselin (Y)    =  19,21 gram
     Berat sampel (X)        =  2 gram
     Berat Setelah Oven (Z)    =  20,98 gram
     KA    = x100%
           %
            %
               = 11,5%
     Berat Kering  = 100% - 11,5%
                     = 88,5%
5.1.3.2  Analisis Kadar Abu
     Berat cawan        = 19,21gram
     Berat sampel        = 2 gram
     Berat setelah ditanur    = 19,39 gram
     K.Abu     = x 100%
     K.Abu     = x 100 %    = 9 %
5.1.3.3  Lemak Kasar
     Berat setelah oven        = 1,48 gram
     Berat setelah diekstraksi     = 1,42 gram
     Berat sampel             = 1 gram
     Kadar Lemak    = x 100%
            = x 100%  = 6 %
5.1.3.4.  Protein Kasar
     Sampel     = 0,1 gram
     ml titran    = 2,7 ml
     N H Cl          = 0,1
     Kadar protein kasar    = X 100%
                = X 100%
                        = 23,625 % = 23,63%
5.1.3.5.  Serat Kasar
     Berat kertas        = 0,59 gram
     Berat sampel        = 1,01 gram
      Berat setelah dioven    = 18,63 gram
     Berat setelah ditanur    = 17,89 gram
        x100%
        =x100%
        = 15 %
5.1.4     Free Fatty Acid (FFA)
     Berat sampel            = 7,05gram
     Titrasi                =   0 (nol) NaOH
     Berat molekul asam lemak    = 278 (nabati), 288 (hewani)
     %FFA  = Hasil dari sampel tepung daun pepaya tidak diketahui.
5.1.5      Gross Energy(GE)   
              Sisa kawat    = 2,6 cm
              Air cucian    = 89 ml
              ml titrasi    =  0 ml
              Berat kertas= 0,23 gram
B    = berat sampel
Ta    = suhu konstan
Tc1    = awal pembakaran
Tc    = akhir pembakaran
Ta    = angka ketetapan = 5
Tc    = jumlah pembakaran



E1    =
    =
E2    = berat kertas = 0,23
E3    = (panjang kawat – sisa kawat) x 2,3
    = (12 – 2,6) x 2,3 = 21,62
r1    =
Tb    = 0,6 x (Ta + Tc)
    = 0,6 x (5 + 5 ) = 6
Koreksi benzoate     = 0,985
Bk    = 100 % - KA
    = 100 % - 11,5%
    = 88,5 % => 0,885
GEtotal  =   GE – GEkertas
T    = (tc – ta) –r1 x  |Ta-Tb|
     = 28,6 – 27,84 – 0,152 x  | 5 – 6 |
    = 0,608 x 1
    = 0,608
Hg    =
=
    =
GE     = Hg x koreksi benzoat
    = 3280,06 x 0,985
    = 3231,45 kkal.
5.2    Pembahasan
5.2.1 Nomenklatur Hijauan dan Bahan Pakan
Bahan makanan ternak atau pakan diartikan sebagai semua bahan yang dapat dimakan oleh ternak. Bahan pakan mengandung sejumlah senyawa yang dibutuhkan oleh ternak dalam menunjang proses kehidupan yang disebut zat makanan. Seperti halnya bahan pangan, sumber utama bahan pangan berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani) baik sebagai produk utama maupun hasil pakan (limbah) pengolahan produk utama.
Menurut Hartati (2002), ciri-ciri bahan makanan dapat dibedakan dan dipisahkan dengan mengkhususkan dari kualitas-kualitas bahan makanan yang dihubungkan dengan perbedaan nilai gizinya. Pemberiraan tata nama internasional dilandaskan atas 6 faset, yaitu:
1. Asal mula (origin) ; meliputi nama ilmiah (genus, spesies, varietas) ; nama umum ( jenis, bangsa atau macam ), dan rumput kimia. Bahan makanan ternak berasal dari berbagai bahan-bahan induk. Maka asal mula suatu bahan perlu diketahui.
2. Bagian (part) ; dibedakan kepada sebagaimana proses yang dialami. Pada waktu yang lalu, bagian tanaman atau hewan yang dapat dimakan adalah jelas, seperti daun, tangkai, biji, potongan daging, atau tulang.
3. Proses-proses dan perlakuan-perlakuan ; sebagaimana yang telah dialami oleh bagian-bagian tadi. Banyak proses yang digunakan dalam bahan makanan ternak dari beberapa macam perlakuan.
4. Tingkat kedewasaan ; ini adalah faktor yang penting mempengaruhi nilai gizi hijauan, silase, dan beberapa produk hewan ternak. Ada suatu tingkat kedewasaan optimal dari tanaman-tanaman hijauan dewasa lewat batas tersebut, komposisi kimia, perbandingan daun dan batang, banyaknya biji atau utiran padian sangat besar pengaruhnya terhadap nilai gizi.
5. Pemotongan (defoliasi) ; beberapa tanaman hijauan dipotong dan dipanen beberapa kali dalam satu tahun. Setiap potongan mempunyai kandungan zat gizi yang khusus maupun ciri-ciri fisiknya.
6. Grade (garansi pabrik) ; beberapa bahan makanan yang diperdagangkan diberi grade resmi berdasarkan komposisi dengan kualitas karakteristiknya.
 Beberapa bahan pakan yang dianalisis nomenklaturnya berasal dari berbagai jenis seperti rerumputan (graminae) dan leguminosa (kacang-kacangan). Hal ini sependapat dengan pernyataan dari Tuti (2009) yang menyatakan bahan pakan hijauan merupakan bahan pakan yang berasal dari tanaman dan dimakan ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak. Secara garis besar bahan pakan hijauan digolongkan kedalam lima kelompok bahan pakan, yaitu graminae (rumput-rumputan), cyperaceae (teki-tekian), leguminosa (kacang-kacangan), browse (ramban) dan limbah pertanian.
Kelompok graminae atau rumput sebangsa padi digolongkan kedalam dua golongan yaitu rumput alam dan rumput potong atau budidaya. Rumput alami atau yang disebut rumput ladang adalah rumput yang tumbuh secara liar di tanah-tanah terbuka (jenis rumput heterogen). Sedangkan rumput potong adalah rumput yang ditanam di lahan tertentu yang digunakan sebagai pakan ternak dan bersifat homogen, misalnya rumput gajah, raja, setaria, atau setaria lampung. Kedua jenis rumput ini merupakan tipe tanaman tahunan yang dapat ditanam secara monokultur dan tumpang sari dengan legium, sehingga dapat diperoleh manfaat secara maksimal (Bahar, 1998).
Konsentrat termasuk pakan tambahan yang berfungsi sebagai pemicu pertumbuhan atau produksi bagi ternak ruminansia. Sementara itu bagi ternak monogastrik, konsentrat merupakan pakan utama. Bahan pakan sumber energi dari jenis konsentrat sebagian besar terdapat dalam bahan pakan asal tumbuhan nabati dengan limbahnya, diantaranya jagung kuning, pollard, millet, bekatul, onggok ataupun gandum. Bahan pakan sumber energi asal nabati ini umumnya mempunyai kandungan serat kasar yang tinggi.
Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Konsentrat sebagai sumber protein apabila kandungan protein lebih dari 8 %, TDN 60 %. Konsentrat sebagai sumber energi apabila kandungan protein yang kurang dari 18 %, TDN 60 % dan serat kasarnya  lebih dari 10 %, contohnya : dedak, jagung, pollard ( Budi, 2009).
5.2.2    Pengenalan Alat
  Praktikum pengenalan alat yang dilakukan di Laboratorium IBMT dimulai dari alat-alat yang kecil atau alat-alat standar laboratorium hingga alat yang canggih. Prosedur dalam praktek di lab membuat mahasiswa mengetahui beberapa alat yang belum atau bahkan tidak pernah mereka temui di waktu yang lalu. Namun, ada beberapa alat yang sudah dan terlihat usang. Hal ini seharusnya dapat di perbaiki secepatnya karena akan memperlambat proses belajar dan mengajar seperti yang dinyatakan oleh Rustaman dalam Maknum (2012) bahwa implementasi kegiatan praktikum di laboratorium ternyata masih menghadapi banyak kendala. Permasalahan yang dihadapi dan dialami dosen dalam menyelenggarakan kegiatan praktikum antara lain kurangnya peralatan praktikum, kurangnya keterampilan dosen dalam mengolah kegiatan laboratorium atau kegiatan laboratorium secara praktis jarang dilaksanakan, praktikum banyak menguras tenaga.
Hal ini erat kaitanya dengan proses belajar dan mengajar di praktikum. Dengan adanya praktikum makan proses belajar mengajar akan lebih baik karena apa yang dipelajari saat pelaksanaan teori juga dipraktekan pada saat praktikum berjalan. Namun dalam perjalananya, alat-alat yang digunakan pada praktikum juga harus diperhatikan keadaanya, mulai dari perawatan, perbaikan hingga penggantia jika perlu karena bila alat yang digunakan juga baik, maka praktikum akan berjalan cepat dan efisien tenaga. Hal ini juga sependapat denfan pernyataan yang disampaikan oleh Budi (2010) bahwa pemeliharaan dalam hal ini bukan berarti alat yang disimpan agar selalu utuh akan tetapi alat tetap digunakan namun tetap bertahan lama. Disebutkan pula, pemeliharaan atau perawatan yang baik meliputi penyimpanan pada tempat yang aman ; perawatan termasuk menjaga kebersihan ; penyusunan penyimpanan alat-alat yang berbentuk set dan menghindari pengaruh luar / lingkungan terhadap alat.
 5.2.3  Uji fisik
5.2.3.1 Daya Ambang
 Praktikum uji fisik dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya menentukan daya ambang. Daya ambang dilakukan dengan metode menjatuhkan bahan pakan ke dasar dan dihitung waktu ketika telah sampai dibawah. Hal ini dibutuhkan pada pengefisienan dalam pencurahan pakan dalam suatu industri pakan besar dan semakin besar atau kecilnya suatu partikel yang dimiliki oleh bahan pakan, maka akan semakin mempengaruhi jatuhnya bahan pakan tersebut ke dasar. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Fadillah (2005) bahwa daya ambang suatu pertikel bahan dikatakan besar apabila semakin lama waktu yang diperlukan menuju bidang dasar dari ketinggian tertentu.
Hasil dari uji fisik daya ambang menunjukan angka 0,36 m/dt. Hasil ini berorientasi pada tingkat daya ambang yang tinggi dalam artian partikel yang terkandung dalam bahan pakan tersebut kecil. Semakin tinggi daya ambang, maka semakin banyak luas penampang dasar (tempat jatuh) yang harus disediakan agar tidak bahan pakan yang nantinya tercecer.

5.2.3.2 Sudut Tumpukan
 Uji fisik tahap selanjutnya adalah mengetahui sudut tumpukan. Bahan yang dituang ke dalam corong dihentikan sejenak, kemudian dicurahkan ke tempat yang telah disediakan. Praktikum uji fisik memperhatikan sudut tumpukan sesuai dengan pernyataan Edison (2009) bahwa uji fisik meliputi stabilitas pakan dalam air, tingkat kekerasan, sudut tumpukan, tingkat homogenitas, kecepatan tenggelam, serta daya pekat dan daya lezat pakan. Pada akhir pencurahan bahan pakan bentuk bahan akan menjadi kerucut dengan ketinggian yang sesuai.
Dalam penentuan sudut tumpukan, ada beberapa hal yang menentukan jumlah sudut yang diperoleh dari rumus tg = 2t/d. Seperti jenis bahan pakan, ukuran, bentuk dan masih banyak lagi. Salah satu untuk mengakali agar proses pencurahan cepat dengan memukul badang penyangga corong. Hasil pengukuran diperoleh sudut tumpukan sebesar 35,26 derajat. Hal ini menunjukan kesesuaian dengan pustaka yang bersumber dari pernyataan Rachman (2006) bahwa ransum berbentuk padat mempunyai sudut tumpukan berkisar 20-50 derajat.

5.2.3.3 Luas Permukaan Spesifik
 Uji fisik yang terakhir ialah uji luas permukaan spesifik (LPS) suatu sampel bahan pakan. Sebelumnya bahan pakan ditimbang hingga 2 gr, lalu diratakan pada kertas milimeter blok yang telah disiapkan. Hasil dari uji LPS oleh kelompok, didapatkan hasil 35,1458 cm2/gr dan hasil ini tidak berbeda jauh dengan kelompok lain.
 LPS sendiri merupakan luas permukaan spesifik suatu bahan pakan dengan berat tertentu. Dengan mengukur LPS maka akan diketahui tingkat kehalusan yang dimiliki oleh bahan tersebut. Hal ini sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sutardi, et.al (2003) bahwa bahan pakan memiliki tingkat kehalusan dan ukuran komposisi. LPS juga dapat bermanfaat dalam pengefisenan bahan pakan, seperti yang diungkapkan oleh Jaelani (2007) bahwa efisien suatu proses penganganan, pengolahan dan penyimpanan dalam bahan pakan tidak hanya butuh nilai gizi dan unsur kimianya saja, melainkan juga sifat fisik.

5.2.3.4 Berat Jenis
 Setiap bahan pakan tentunya memiliki berat dan berat jenis partikel yang berbeda dengan bahan lain. Berat jenis yang diukur adalah ransum dedak padi yang sebelumnya ditimbang di timbangan. Berat jenis yang dihasilkan dari perhitungan adalah 0,273 gr/ml yang berarti berat jenisnya tidak lebih besar dari berat jenis air yaitu satu. Kenapa hal sedetail ini perlu diperhatikan karena bila ini terjadi (berat jenis pakan lebih besar) daripada air maka rumen akan kesulitan mencerna karena posisi pakan ada di ambang permukaan atau di atas cairan rumen.
Hal di atas sependapat dengan pernyataan Retnani (2011) bahwa semakin tinggi berat jenis, maka akan semakin tinggi kapasitas ruang penyimpanan dan memudahkan pengangkutan. Maka dari  itu, berat konsentrat harus didorong oleh berat dari hijauan pakan karena dapat langsung dicerna oleh cairan rumen (mikroba). Penghitungan berat jenis dapat juga diperlakukan pada kapasitas ruang penyimpanan juga untuk efisiensi pakan, dalam metabolisme dalam rumen.

5.2.4    Analisis Proksimat
5.2.4.1  Analisis Kadar Air
 Pengamatan dilakukan menggunakan beberapa alat yang mengandung unsur penguapan sesuai dengan praktikum yang dilakukan yaitu kadar air. Sampel yang diamati tentunya memiliki nilai kandungan air yang masih menempel. Kadar air mencari berapa banyak air yang menguap hingga menjadi bahan kering nantinya. Alat seperti tanur dan oven digunakan menghasilkan kandungan air yang menguap dan menyisakan bahan kering.
Kadar air yang terlalu banyak pada suatu bahan pakan akan menyebabkan cepat membusuk/ tidak bergunanya suatu bahan pakan. Karena, mikroba senang tumbuh di dalam air dan cepat berkembang biak di dalam pakan ternak. Selain itu, kadar air dalam pakan juga memperngaruhi kandungan nutrisi yang bisa menganggu kesehatan ternak. Hasil didapatkan bahwa kandungan sampel mengandung 11,5 % kadar air yang berarti masih ditaraf aman dikonsumsi oleh ternak, sesuai dengan pernyataan Sutardi (2003) bahwa faktor yang mempengaruhi kadar air salah satunya adalah metode pengeringan dan kandungan air dari suatu bahan pakan. Pakan dapat disimpan jika bahan pakan mempunyai kandungan air 13,5 %, karena kandungan air yang terlalu tinggi akan merusak nutrien dari bahan pakan karena degradasi oleh bakteri. Dari hasil kadar air yang didapat, berat bahan kering dari sampel yang dianalisis adalah sebesar 88,5 %.

5.2.4.2 Analisis Kadar Abu
 Praktikum selanjutnya berhubungan dengan praktikum kadar air dimana pemakaian tanur untuk menghilangkan / mengetahui kadar abu suatu bahan pakan. Tanur merupakan alat pemanas yang berfungsi mengabukan suatu bahan pakan dengan suhu 600 derajat celcius, sesuai dengan pernyataan Richana (2004), bahwa kadar abu dianalisis dengan cara pengabuan di tanur pada posisi 500 – 600 0C. Mendapatkan hasil kadar abu 9 %.  Hasil ini diperoleh setelah pengurangan dari tingkat bahan kering sebelumnya.
Hasil dari pengamatan kadar abu menunjukan hasil bahwa tingkat kecernaan pakan dilihat dari bahan organiknya pun dapat diketahui. Tentunya dari tingkat bahan kadar organik atau tingkat kadar abu yang tertera, dapat ditentukan sejauh mana kualitas bahan pakan tersebut nantinya. Dengan begini berarti bahan organik yang menguap merupakan zat nutrisi dan sisanya adalah abu sesuai dengan pernyataan Ewing (1963) bahwa pada suhu tunggi bahan  organik yang ada terbakar sempurna menjadi CO2, H2O, dan gas lain yang menguap. Sedangkan sisanya merupakan abu atau campuran dari berbagai oksi dan mineral.

5.2.4.3 Kadar Protein Kasar
 Analisis proksimat yang terakhir ialah penentuan kadar protein kasar pada suatu sampel bahan pakan. Kenapa disebut protein kasar karena oleh tingkat ketelitian dari analisis proksimat yang mengukur tingkat Nitrogen (N) adalah protein, sedangkan kenyataan bahwa tidak semua N adalah protein. Tahap pertama ialah mendestruksi atau memecah/meregangkan ikatan N yang ada dalam sampel bahan pakan. Namun dalam praktiknya, hal yang harus dilakukan adalah menggunakan larutan katalisator untuk mempercepat reaksi, sesuai dengan pernyataan Apriati (1989) bahwa suatu bahan yang mempengaruhi laju reaksi kimia tetapi pada akhirnya keluar tanpa mengalami perubahan.
Kadar protein kasar menghasilkan perhitungan 23,63% dan dari sampel. Tidak ada perbandingan yang dapat kelompok kami lakukan hingga kami tidak tahu apakah mendekati atau justru menjauh dari hasil perhitungan kelompok lain. Kadar Nitrogen merupakan kimia yang terkandung dalam 16 % dari 100% protein (tiap protein) dan sangat berguna bagi ternak dalam proses pertumbuhan dikarenakan kandungan protein tinggi dapat dimanfaatkan sebagai sumber nitrogen bagi mikroba rumen (Sudibyo, 2005).

5.2.4.4 Kadar Lemak Kasar
 Setiap bahan pakan, pastinya tidak hanya memiliki satu jenis nutrisi saja, melainkan bermacam-macam jenisnya. Seperti kadar tepung daun pepaya yang diukur, ialah kadar lemak kasar. Menentukan kadar lemak kasar pada sampel tepung daun pepaya di dapatkan hasil 6%. Praktikum diawali dan diakhiri dengan pemanasan oleh oven, tujuanya mengetahui kadar berat bahan pakan yang dicari setelah dan sebelum diekstraksi. Fungsi oven sebagai penguap bahan pakan sesuai dengan pendapat Dwiyanto (2001) bahwa pengeringan temperatur tinggi dengan menggunakan oven pada suhu 1050C menyebabkan kehilangan senyawa yang tidak tahan panas dan berat sampel akan berkurang.
Dalam tubuh manusia, lemak sendiri berfungsi melarutkan vitamin yang masuk dalam tubuh, oleh karena itu fungsinya juga berperan penting, namun dalam praktikum kali ini hanya menentukan lemak kasar yang tersusun atas kandungan beberapa lemak. Salah satu proses yang dilewati dalam mencari kadar lemak kasar ialah dengan mengekstraksi bahan tersebut dan larutan yang digunakan oleh kelompok kami ialah larutan petroleum benzene. Pernyataan Woodman (1941) sesuai dengan praktikum yang telah dijalani bahwa lemak tidak larut dalam air akan tetapi larut dalam kloroform, eter, dan benzene.

5.2.4.5 Kadar Serat Kasar
 Dalam hijauan pakan, pastinya terdapat serat kasar yang ketika dicerna oleh manusia pasti sulit dan akan merusak kinerja pencernaan pada khususnya. Proses berjalanya praktikum melewati jangka waktu yang cukup menguras tenaga praktikan ataupun asisten. Hasil yang didapat oleh proses tersebut ialah 15 %. Hasil ini bisa dikatakan merupakan hasil yang tidak sesuai  dari pernyataan Suhartanto (2000) bahwa bahan pakan basal adalah bahan pakan komplit (komersial) dengan SK sebesar 25 %.
Hal ini menunjukan adanya kekurangan saat praktikan berjalan atau memang bahan sampel yang diuji bukan merupakan sumber energi. Serat kasar sendiri akan bisa dicerna oleh ternak, karena ternak memiliki mikroba rumen yang membantu proses pencernaan bahan pakan di sapi, kambing atau ternak ruminansia lain nya. Salah satu mikroba yang berperan dalam proses pencernaan pakan ialah mikroba selulotik yang mencerna serat kasar sellosa. Pernyataan yang sesuai bahwa serat kasar memiliki selulosa ialah sependapat dengan Church (1998) bahwa serat kasar ialah nutrien yang terdiri dari sellulosa, hemiselulosa, lignin.
5.2.5 Analisis Asam Lemak Bebas (FFA)
Prinsip kerja yang dilakukan pada penghitungan kadar lemak bebas (FFA) ialah lemak yang tidak terikat oleh ikatan trigeserilda. Hasil menunjukan tingkat FFA pada sampel tepung daun pepaya yang diukur adalah 0 % atau dari sampel ini tidak diketahui hasilnya dikarnakan larutan sampel yang berwarna hijau kehitaman jadi untuk di titrasi menjadi berubah warna sangat susah. Karena jika FFA  terlalu banyak pada suatu sampel bahan pakan akan menyebabkan bahan pakan dapat bertambah tengik dan ternak pun akan tidak suka. Hal ini sependapat dengan pernyataan dari Ketaren (1986) yang menyatakan bahwa semakin kecil kadar FFA yang terkandung pada bahan makanan ternak, menunjukan bahan tersebut tidak mudah tengik atau basi. Begitu juga sebaliknya, kadar FFA yang tinggi menyebabkan bahan makanan tersebut mudah tengik.
    Di bagian awal disebutkan bahwa tingkat kadar air yang tinggi juga menyebabkan kualitas bahan pakan akan jelek atau rendah. Begitu pula dengan kadar FFA dimana tingkat kerendahan atau kualitas jelek dari cepat atau lamanya pakan tersebut basi atau tengik. Seperti yang dijelaskan oleh Herawati (2008) bahwa selain kadar air, kerusakan produk pangan juga disebabkan oleh ketengikan akibat terjadinya oksidasi atau hidolisis komponen bahan pangan. Maka diperlukan analisi Free Fatty Acid (FFA) atau Tio Barbitunic Acid (TBA).
    Dalam penentuan FFA ini, hal yang dilakukan seperti pemanasan atau refluk oleh larutan alkohol selama 15 menit. Karena alkohol merupakan larutan yang dapat bereaksi terhadap larutan non polar seperti lemak. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Sudarmadji (1996), bahwa dalam kondisi yang panas alkohol akan lebih baik dan cepat melarutkan sampel yang nonpolar dan kondisi netral dilakukan agar data akhir tepat. Karena jika tidak netral, maka hasil titrasi asam-basa menjadi tidak sesuai.
5.2.6  Gross Energy
Praktikum kali ini menentukan kadar Energi Bruto yang terkandung pada sebuah pakan. Hasil yang didapat pada pengukurang akhir ialah 3231,45 kkal/kg. Dibandingkan dengan hasil yang diperoleh oleh kelompok lain menunjukan hasil yang bisa dibilang cukup jauh jauh. Besar kecilnya kadar GE yang dianalisis oleh praktikan bisa berasal dari bahan pakan itu sendiri atau adanya prosedur yang sedikit salah pada tahap analisis. Kadar energi bruto yang terkandung pada suatu bahan pakan berbeda antar satu dengan yan lain jiga terkandung kepada konsumen pakan itu sendiri, pernyataan ini sesuai dengan pernyataan dari Endri Musnandar (2011) bahwa kebutuhan energi dipengaruhi oleh bangsa, geografi, daerah dan musim. Penrghitungan energi bruto (efisiensi) dimaksud untuk mengetahui penggunaan energi oleh ternak.
Proses penentuan GE tidak terlepas dari alat yang bernama Bomb Calorimeter dan proses pembakaran oleh Bomb Calorimeter pun butuh oksigen untuk jalan/berlangsung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jean-Yues Garnier (2005) yaitu bila karbon dan hidrogen dikombinasikan dengan oksigen dalam suatu proses pembakaran, reaksinya menghasilkan panas dan air adalah media yang cocok dalam pembantu pemanasan tersebut, terbukti dalam alat Bomb Calorimeter ada air sebagai media penghantar panas. Hal pembakaran dapat mempercepat pemanasan suatu bahan pakan juga disampaikan oleh Haryono (2000) bahwa energi bruto merupakan sejumlah panas yang disebabkan apabila suatu bahan makanan dioksidasi secara total dalam Bomb Calorimeter yang mengandung 25-30 atm oksigen. Kegunaan ini dapat memperkirakan metabolis bahan pakan dengan tepat sebelum menyusun ransum.
Seperti halnya analisis yang dilakukan pada sampel lain, adanya penentuan/analisis kadar GE dapat berguna dalam penyusunan ransum pakan bagi ternak. Selain itu, dominasi GE terhadap suatu bahan pakan juga tidak mendominasi secara utuh. Pernyataan Guntoro (2008), mendukung  hal ini yaitu GE (Gross Energy) adalah energi yang terkandung dalam bahan pakan berdasarkan nilai ekuivalen untuk karbohidrat 4,1 kkal/gr (17,2 kj/kg), lemak 9,5 kkal/gr (39,8 kj/kg) dan protein 5,6 kkal/gr (23,4 kj/gr).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1   Kesimpulan
1. Pemberian nomenklatur bertujuan untuk menghindari kesamaan nama antara jenis pakan yang satu dengan pakan yang lain. Pemberian nama terbagi menjadi enam faset yaitu ;   asal, bagian, proses, umur, defoliasi dan grade.
2. Pengenalan alat digunakan untuk mempermudah proses praktikum karena praktikan     sudah mengetahui kegunaan alat yang telah dikenalkan.
3. Kualitas sifat fisik suatu bahan tergantung oleh beberapa faktor diantaranya berat jenis (density), luas permukaan spesifik, daya ambang dan sudut tumpukan.
4. Analisis proksimat dapat digunakan untuk menghitung kadar komposisi bahan pakan tetapi tidak dapat memberikan perincian kadar atau isi dari komposisi suatu bahan, seperti perincian mengenai kadar vitamin yang terkandung.
5. Semakin kecil asam lemak bebas yang terkandung pada bahan pakan ternak menunjukan bahan tersebut  tidak mudah tengik dan sebaliknya.
6. GE adalah jumlah energi yang ada di dalam bahan pakan dengan mengubah energi kimia menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang dihasilkan dengan hasil 3.231,45 kkal/kg.

4.2  Saran
1. Perbaiki alat-alat praktikum yang sudah mulai rusak dan jika perlu diganti dengan yang baru.
2. Waktu untuk praktikum dioptimalkan sebaik mungkin.







DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Apriati, L. 1989. “Palabilitas dan Kecernaan berbagai straw mix dari rumput gajah (Pennisetum purpureum ) pada Sapi Peternakan Fries Holland”. Karya Ilmiah, IPB : Bogor
Axe, D.E. 1995. Factors Affecting Uniformity a Milk  Mailinkord Feed Ingredients. Mundelain.
Bahar, Syamsu, et.al. 1998. “Perbaikan Padang Rumput Alam dengan Introduksi Leguminosa dan Berbagai Cara Pengolahan Tanah”. IPPTP Gowa dan IPB Bogor. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 4 (3) : 185-190
Budimawarti, C. 2010. Pengelolaan Alat dan Bahan di Laboratorium Kimia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, DIKTI : Jakarta
Church, D and W.G. Pord.1998. Basic Animal Nutrition dan Feeding. John Wiley  : New York
Dwiyanto, K. 2001. “Ketersediaan Teknologi dan Pengembangan Ruminansia Kecil. Makalah pada Seminar Nasional Domba dan Kambing Institut Pertanian Bogor : Bogor
Edison, Saade dan Alamsyah, Siti.2009. “ Uji Fisik dan Kimiawi Pakan Buatan untuk Udang Windu yang Menggunakan Berbagai Jenis Rumput Laut Sebagai Perekat”. FIKP = Universitas Hassanudin.
Ewing, W.R.1963. Poultry Nutrition 5th Edition The Ray Ewing 10. Pasadena : California.
Fadillah, Muhammad. 2005. “Substitusi Tepung Ikan dengan Corn Glutein Neal Terhadap Efisiensi Pengerahan Bahan pada Sistem Produksi Kontinu Pellet Broiler Finisher”. IPB = Bogor
Farida, W. R. 1998. Pengimbuhan Konsentrat dalam Ransum Penggemukan Kambing Muda di Wamena, Irian Jaya. Media Veteriner 5 (2) : 21-26
Guntoro, S.2008. Membuat Pakan Ternak dari Limbah Perkebunan. Agromedia Pustaka : Jakarta
Hartadi, H., Soedomo R., dan A.D. Tillman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hartati, Sri.2002. Nutrisi Ternak Dasar. Universitas Jenderal  Soedirman : Purwokerto
Haryanto, Budi. 2009. “Inovasi Teknologi Pakan Ternak dalam Sistem Intergrasi Tanaman –Ternak Bebas Limbah Mendukung Upaya Produksi Daging “. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan : Bogor. Jurnal Pengembangan Pertanian 2 (3) : 163-176
Herawati, Heny. 2008. “Penentuan Umur Simpan pad Produk Pangan”. Jurnal Litbang Pertanian : Ungaran
Jaelani, A. dan N. Firahmi. 2007. Kualitas Sifat Fisik dan Kandungan Nutrisi Bungkil Inti Sawit dari Berbagai Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan.
Jean Yves Garnier. 2005. Manual Statistik Energi. OECD/IEA : Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia : Jakarta
Mahmudi, M. 1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Fosfat Menggunakan Cara Ekstraksi Cair-Cair dengan Solven Campuran Isopropanol dan n-Heksan. Semarang: Universitas Diponegoro.
Maknum, D, et.al. 2012. “ Pemetaan Keterampilan Esensial Laboratorium dalam Kegiatan Praktikum Ekologi”. Bandung. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia 1 (1)
Musnandar, Endri. 2011. “Efisiensi Energi pada Sapi Perah Holstein yang Diberi Berbagai Imbangan Rumput dan Konsentrat”. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Statis : Jambi
Rahardjo. 2002. Ilmu Teknologi Bahan Pakan. UNSOED: Purwokerto.
Rahman, Reani Syafira. 2006. “Pengaruh Pengurangan Jagung Sebagai Sumber Pati terhadap Laju Air pada Proses Berkesinambungan. IPB=Bogor
Richana Nur dan Tuti Chandra Sunarti. 2004. “ Karakterisasi Sifat Fisik Kimia Tepung Umbi dan Tepung Roti dari Umbi Gangong, Suweg, Ubi Kayu dan Gambli”. Jurnal Pascapanen. Vol 1 No. 1
Siregar, S. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Soejono, M. 1994. Pengenalan dan Pengawasan Kualitas Bahan Baku dan Pakan. Ditjen Peternakan. Dit. Bina Produksi, Jakarta.
Sudarmadji, S. 1997. Prosedur untuk Analisa Bahan Pakan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sudibyo, Nunung, dkk. 2005. “Pengaruh Proporsi Limbah Daun Rami dalam Konsentrat Pakan Lengkap Terhadap Pertumbuhan Kambing”.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner
Suhartanto, B. 2010. “Kecernaan Kompartimental Riel Nitrogen di dalam Intestinum dan Rudimen Transformasinya ke dalam Nitrogen Mikroorganisme pad Ruminansia : Aplikasi Evaluasi Bahan Pakan yang telah diukur Protein Real Tercemarnya dalam Intestinum pada Ransum “. Karya Ilmiah Hasil Penelitian. Lembaga Penelitian UGM : Yogyakarta.
Supardjo.2007. Analisis Secara Kimia. http://jurnals.htm.wordpress.com/2007 /06/09 Diakses, tanggal 30 Oktober 2013.
Sutardi, Tri R., W. Suryapratama, Munasik, dan T. Widiyastuti. 2003. Bahan Kuliah Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Thomson. 1993. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan. Bogor.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosukojo. 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Widyastuti, Tuti.2009. “Pemanfaatan Tepung Daun Pepaya (Carica Papaya L.) dalam Upaya Peningkatan Produksi dan Kualitas Telur Ayam Sentul. Fapet Universitas Padjajaran Bandung. Jurnal Agroland 16 (3) : 268-273
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Yulia, Retnani, et.al. 2011. “ The Physical of Market Vegetables Waste Wafer and taht Palability for Sheep Livestock”. IPB : Bogor
a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar